Kapitalisme Baru (Neo-Capitalism) adalah suatu ideologi ekonomi yang menggabungkan elemen dari ideologi kapitalisme dengan ideologi sosialisme. Kapitalisme baru muncul karena ideologi ekonomi lama, baik ideologi kapitalisme maupun ideologi sosialisme, masih terjebak pada konflik yang tidak terselesaikan antara pemilik modal dan karyawan yang menggunakan aset milik pemodal tersebut. Dibawah ini kami menyampaikan evolusi dari ideologi ekonomi masa lalu sampai ideologi masa depan.

Kaptalisme

Ideologi antara kapitalisme dan sosialisme mempunyai pandangan yang sangat berbeda mengenai pembagian keuntungan perusahaan. Ideologi kapitalisme melihat bahwa pemilik perusahaan berhak atas bagian terbesar keuntungan perusahaan karena pemilik perusahaan menghadapi risiko hilangnya kekayaan jika perusahaan mengalami kebangkrutan. Ideologi sosialisme melihat bahwa karyawan perusahaan berhak atas bagian terbesar keuntungan perusahaan karena karyawan yang sesungguhnya bekerja memproduksi barang atau jasa yang dijual oleh perusahaan.

Pertentangan ini dicoba diatasi oleh ideologi kapitalisme saat ini yang dikenal dengan nama fair trade. Pemilik perusahaan melihat bahwa keunggulan bernegosiasi (bargaining power) relatif terhadap karyawan tidak perlu dimanfaatkan secara maksimal. Pemilik perusahaan bersedia untuk memberikan bagian keuntungan tambahan (pie chart warna merah) bagi karyawan.

Pandangan pemilik perusahaan mengenai fair trade masih terbelah, ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju. Oleh karena itu, Michael E Porter pada Harvard Business Review tahun 2011 menawarkan solusi yang lebih baik yaitu share value. Pada konsep share value, pemilik perusahaan tidak perlu memberikan presentase keuntungan yang lebih besar pada karyawan tetapi pada saat yang sama karyawan masih bisa menjadi lebih sejahtera.

Share value bisa berhasil jika pemilik perusahaan berhasil memperbesar porsi keuntungan (lihat pie chart yang lebih besar dari pie chart neo capitalisme terkini). Porsi keuntungan dapat diperbesar oleh pemilik perusahaan dengan memberdayakan perusahaan lain pada jalur value chain sebelum atau sesudah perusahaan. Misalnya petani pisang yang berada pada desa dengan jalan yang rusak harus mengirim pisang dengan menggunakan bantalan yang tebal agar pisang tidak rusak sampai ke tempat tujuan. Perusahaan yang membeli pisang kepada petani tersebut dapat meningkatkan keuntungan dengan cara bersama-sama petani memperbaiki jalan rusak sehingga petani pisang dapat menggunakan bantalan yang lebih tipis dan mengirim lebih banyak pisang dalam satu kali pengiriman. Pengiriman pisang yang lebih banyak memampukan karyawan perusahaan untuk menjual lebih banyak pisang. Penjualan pisang yang lebih banyak dapat meningkatkan keuntungan pemilik perusahaan dan mensejahterakan karyawan, walaupun bonus penjualan per tandan pisang tidak mengalami kenaikan.

Konsep share value yang diajukan oleh Michael E Porter ini diharapkan dapat mengeser metode analisis 5 competitive forces menjadi metode analisis 5 collaborative forces. Konsep analisis 5 collaborative forces akan dibahas pada artikel berikutnya. Salam sejahtera!

Ditulis oleh : Dr. Adrian Tedja (Alumni Prasetiya Mulya MMR 12 / Faculty Member Universitas Prasetiya Mulya)