Thinking is not attacking and opposing but finding a new better ways.Thinking is not only problem solving but more, looking for opportunity and innovation.”


Di era yang seringkali terjadi perubahan seperti saat ini, dunia terus dilanda oleh kemajuan teknologi terutama teknologi informasi, yang mengakibatkan setiap langkah dalam kehidupan sering terjadi inovasi yang mengejutkan. Banyak pihak berlomba untuk bertahan dengan lebih cepat memperoleh sesuatu yang baru dan berusahan menjadi yang terdepan. Bahkan, terdapat ungkapan be better than the best, seperti motto yang digunakan di Olympic Games : Citius – Altius – Fortius, yang berarti lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat.

Jika kita sedikit merenung dan bertanya bagaimana hal tersebut dapat terjadi, maka jawaban dasarnya adalah mengenai kemampuan berpikir. Kemampuan ini seyogyanya terus diasah dan disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan dimana kita berkarya, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir menjadi suatu kreativitas dan dilanjutkan dengan implementasinya, yang kemudian disebut sebagai inovasi.

Definisi sederhana kreativitas adalah menciptakan atau memimpikan sebuah ide, bukan saja suatu produk, tetapi juga dengan suatu sistem, konsep, cara berpikir yang unik dan belum ada sebelumnya serta berguna bagi lingkungan, korporasi serta umat manusia. Sedangkan, inovasi adalah aplikasi dari kreativitas tersebut yang membuahkan hasil perbaikan yang berguna.

Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa berpikir seperti aktivitas kita sehari – hari yang rutin seperti bernapas, makan, tidur, menggerakkan badan, dan sebagainya. Padahal, proses berpikir membutuhkan teknik dan merupakan suatu keterampilan yang harus terus diasah dan disesuakan dengan kebutuhan. Sebagai contoh, seorang pemain Golf, baik dia seorang pemain amatir ataupun professional, maka dia harus berlatih terus – menerus apabila ingin memperbaiki tingkat kemampuannya.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa setiap orang yang masih aktif, setiap harinya melakukan 35.000 hingga 40.000 gerakan dan semuanya dikendalikan oleh otak kita, mulai dari bangun pagi, turun dari tempat tidur, memakai sandal, membuka pintu, dan seterusnya. Seluruh gerakan sehari – hari yang dilakukan terlihat otomatis dan rutin, seolah – olah menjadi pola (patterning) dan memang apabila sudah terbiasa, kita tidak perlu berpikir lagi.

Ilustrasi lainnya, sebuah mobil untuk dapat berjalan mulus, harus memiliki tiga komponen utama, yaitu mesin, bahan bakar, dan si pengendara. Mesin diibaratkan sebagai teknologi atau pengetahuan, bahan bakar diibaratkan sebagai informasi, dan pengendara diibaratkan kemampuan berpikir dalam mengelola informasi dan teknologi. Secanggih apapun mesin dan bahan bakar dengan oktan yang tinggi, apabila si pengendara tidak memiliki skill untuk menjalankan mobil, maka akan sangat rentan kecelakaan. Apabila segala sesuatunya berjalan dengan sinkron dan dikuasai oleh sang pengendara, semuanya akan berjalan dengan lancar dan si pengendara adalah manusia yang mampu berpikir.

Apabila setiap individu di sebuah organisasi mau dan bisa 2% saja setiap hari mencari ide dan berguna, maka terciptalah apa yang dikatakan suatu micro culture of creativity. Memang mind is designed to think as little as possible. Sebagai seorang profesional atau intelektual, kita seyogyanya tidak memberikan ruang to be complacent jika ingin tetap survive.

Januari 2016,

 

Ping Hartono, MBA