Setelah menyelesaikan pendidikan pascasarjana dengan mengambil program Magister Manajemen full time di Universitas Prasetiya Mulya, Deddi Tedjakumara, MM (MMR 11) dihadapkan pada dua pilihan jalan karier, antara lain menerima tawaran menjadi pengajar full time di Prasetiya Mulya atau membangun karier profesional pada sebuah perusahaan besar di Indonesia. Pada waktu itu, banyak orang di Indonesia berpikir bahwa profesi pengajar sebagai profesi pensiunan atau tidak dipandang sebagai sebuah pilihan profesi yang dimulai sejak dini. Namun, satu hal yang mendorong Deddi hingga pada akhirnya memilih menjadi full time Faculty Member di Prasetiya Mulya yaitu kesempatan untuk memberikan sebuah perubahan atau warna baru. “Jika saya bekerja di sebuah perusahaan, berapa banyak orang yang dapat diubah? Lain halnya kalo saya di Prasetiya Mulya, akan lebih banyak orang yang ‘bisa dipengaruhi’”, cerita Deddi.

Lima tahun pertama berkarier di Prasetiya Mulya, Deddi masih berpikir apakah langkah karier yang telah diambil adalah benar, sedangkan temannya banyak yang berkarier di perusahaan. Namun, dengan passion yang kuat untuk mendidik dan melakukan perubahan, menguatkannya hingga hari ini. “Tanpa menemukan passion, mungkin saya tidak akan bertahan selama ini dan pada bulan Maret 2017 nanti saya telah memasuki masa 20 tahun di Prasetiya Mulya”, ujar Deddi.

Setelah menjalani lima belas tahun pengabdian di Prasetiya Mulya, Deddi semakin yakin bahwa profesin yang dijalaninya hingga saat ini adalah yang terbaik. Hal tersebut dikuatkan dengan adanya beberapa alumni Prasetiya Mulya yang telah melakukan perubahan besar di masyarakat. “Saya bukan mau melihat alumni yang lebih kaya atau secara karier sukses dengan cepat, namun saya ingin melihat alumni Prasetiya Mulya melakukan perubahan”, jelas Deddi.

Pada tahun 2004, Deddi dipercaya oleh Yayasan Prasetiya Mulya untuk menjabat sebagai Pembantu Ketua II Prasetiya Mulya yang menangani bidang operasional dan keuangan. Setelah masa jabatannya selesai, Deddi kembali mendapatkan kepercayaan untuk menangani program non gelar Prasetiya Mulya, yang sempat mengalami penurunan cukup drastis setelah hadirnya Program S1 & S2. Deddi diminta untuk membuat program non gelar Prasetiya Mulya menjadi lebih kuat, lebih sehat, dan bisa menjadi engine. “Kalo dulu 2 (dua) program ini (program gelar dan program non gelar) bagaikan truk gandeng, dimana yang berada di depan adalah program gelar, sedangkan di belakang adalah program non gelar, maka saya ingin membuatnya menjadi dua truk yang sama”, terang Deddi.

Pada awalnya program non gelar Prasetiya Mulya ini bernama Lembaga Manajemen Prasetiya Mulya. Pada tanggal 11 November 2011, Deddi bersama timnya melakukan rebranding dengan mengubah nama menjadi Prasetiya Mulya Executive Learning Institute. Sebagai Executive Director Prasetiya Mulya Executive Learning Institute (ELI), Deddi melakukan perubahan pada ELI, seperti tidak hanya menjual produk saja berupa program non gelar, namun juga menjual solusi kepada klien, sehingga program non gelar tersebut dapat disesuaikan dengan tuntutan dan permasalahan yang muncul. “Kalau dulu program non gelar ini bagaikan apotik yang menjual berbagai obat, saat ini ELI hadir selayaknya seorang dokter yang dapat memberikan diagnosa dengan obat tertentu”, jelas Deddi.

Bagi Deddi, salah satu makna Prasetiya Mulya adalah hadir untuk mewarnai dunia bisnis. “Konsep mewarnai dunia bisnis ini yang selalu saya pikir dari Prasetiya Mulya dan hal itu juga yang membuat saya masuk ke Prasetiya Mulya”, ujar Deddi. Konsep tersebut juga diaplikasikan oleh Deddi dalam menjalankan ELI, misalnya pada evaluasi akhir tahun ia tidak hanya melihat seputar pencapaian, namun juga melihat pada segi impact yang telah diberikan. “Kalo memang tidak ada impact nya, berarti tidak berwarna”, tambah Deddi.

Berdirinya Prasetiya Mulya yang telah memasuki tahun ke-34, dinilai telah mencapai hasil kinerja yang baik dan tidak mudah dicapai oleh sebuah institusi pendidikan dengan kacamata sebagai sebuah institusi pendidikan yang mandiri. Usia ke-34 ini telah membawa Prasetiya Mulya pada level tertentu dimana banyak orang telah mengakui kualitas dan kontribusinya. Namun di sisi lain, ke depannya dunia akan terus mengalami perubahan dan Deddi berharap Prasetiya Mulya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi terkini sehingga tetap dapat relevan dan mewarnai dunia bisnis. “Jangan sampai jurus–jurus kita yang terbukti telah berhasil hingga hari ini justru menjadi belenggu bagi kita untuk bisa maju ke depan”, jelas Deddi. (*lle)