Leander Arditya, MM (Alumni MMR 31) adalah salah satu alumni Universitas Prasetiya Mulya yang merupakan salah satu praktisi di area digital banking. Perjalanan karier profesionalnya tidak terlepas dari ketertarikannya dengan kemajuan digital saat ini yang sangat dinamis. Masa perkuliahannya di Universitas Prasetiya Mulya juga menjadi bekal tersendiri baginya dalam membangun kariernya hingga saat ini.

Perjalan Karier Alumni

Berasal dari latar belakang sebagai Sarjana Teknik di bidang Teknik Informatika, Leander memutuskan untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana. Program Magister Manajemen di Universitas Prasetiya Mulya menjadi pilihan utamanya setelah mendapatkan rekomendasi dari beberapa rekannya sebagai salah satu sekolah bisnis terbaik. Selama berkuliah di Prasetiya Mulya, Leander merasakan karakter individunya berubah dan memiliki jaringan networking yang lebih luas. “Dulu saya itu orangnya introvert banget, lalu masuk ke Prasetiya Mulya pembawaan diri saya untuk dunia kerja menjadi lebih baik,” kata Leander.

Awal perjalanan karier profesional Leander dimulai dengan bergabung di salah satu bank multinasional, yaitu CIMB Niaga pada tahun 2007, setelah ia menyelesaikan perkuliahan di Universitas Prasetiya Mulya. Setelah 9 bulan menjalani program Management Trainee, Leander sempat bergabung di divisi credit card terlebih dahulu dan menangani portfolio management hingga card production. Kesempatan untuk bergabung pada bagian Mobile Banking Channel Development datang padanya di tahun 2010 dan menjadi titik awal Liander mulai berkarier di area digital banking. “Pada saat itu, CIMB Niaga sedang mencoba untuk merevolusi banking dan juga smartphone mulai booming, sehingga kita mencoba untuk menyasar ke pengguna smartphone,” cerita Leander.

Selama lima tahun, Leander turut berkontribusi dalam mengembangkan berbagai fitur layanan mobile banking CIMB Niaga, yaitu Go-Mobile. Berbagai transaksi keuangan dapat dilakukan oleh pengguna Go-Mobile, tidak hanya transaksi perbankan pada umumnya, namun juga dilengkapi dengan fitur e-wallet atau yang lebih dikenal dengan Rekening Ponsel. “Jadi kita menyasar pembayaran yang dapat diintegrasikan dengan mobile banking. Itu menjadi salah satu senjata kita waktu itu sebagai value added, jika dibandingkan dengan produk kompetitor lainnya dalam bersaing,” ungkap Leander. Sekitar 1,3 juta pengguna telah bergabung pada layanan Go-Mobile dengan active consumer rate lebih dari 40% dengan dominasi pengguna adalah generasi muda.

Pada tahun 2015, Leander didapuk menjadi Internet Banking Channel Development Manager. Bergabung di unit ini, ia mendapat tantangan untuk mengembangkan layanan internet banking CIMB Niaga, yaitu CIMB Clicks. Menurut Leander, mengembangkan fitur internet banking akan lebih mudah dan bervariatif karena lebih banyak yang dapat dikembangkan bagi penggunanya tanpa perlu penyesuaian desain tampilan yang lebih rumit. “Cuman dari sisi penggunanya, kalau ingin menggunakan layanan internet banking mungkin harus ada laptop atau komputer, it’s takes time. Tapi secara fitur lebih banyak yang ditawarkan,” kata Leander.

Berbagai fitur disiapkan oleh Leander dan tim dalam rangka memudahkan pengguna CIMB Clicks, salah satunya melalui layanan Account Opening via Internet, dimana nasabah dapat melakukan register akun rekening baru secara online. Setelah melakukan klarifikasi akun rekening melalui proses tatap muka, pengguna CIMB Clicks dapat langsung melakukan berbagai transaksi digital banking tanpa perlu datang lagi ke kantor cabang terdekat, contohnya memilih jenis tabungan yang diinginkan, pembayaran, penawaran deposito dengan suku bunga bersaing, hingga aktivitas kustodian saham. “Segala sesuatu di CIMB Clicks sudah dalam bentuk e-statement, karena memang costly banget jika masih menggunakan buku tabungan, bilyet, ataupun token,” lanjut Leander.

Kini sekitar 1,5 juta pengguna telah bergabung pada layanan CIMB Clicks dengan pengguna aktif sekitar 40% yang tidak hanya didominasi oleh generasi muda, tapi juga nasabah berusia 50 tahun ke atas. “Kalau target sasaran Go-Mobile memang lebih ke anak muda, nah untuk internet banking lebih kepada nasabah berusia 50 tahun ke atas karena mungkin lebih nyaman bagi mereka dan secara limit transaksi yang diberikan memang jauh lebih besar di CIMB Clicks,” kata Leander. Dengan kompetensi dan pengalaman yang dimiliki oleh Liander, pada tahun 2017, ia dipercaya menjadi Digital Channel Development Manager CIMB Niaga dengan menangani aktivitas digital banking CIMB Niaga, antara lain mobile banking dan internet banking. Ke depannya, Leander berencana melanjutkan karier profesionalnya dan menjadi seorang spesialis, terutama di area digital pada layanan keuangan. “Sebenarnya ini semua berawal dari hobi saya terhadap gadget sehingga ingin menjadi spesialis,” ungkap Leander.

Pengaruh & Tantangan Transformasi Digital Pada Industri Perbankan

“Ke depannya perkembangan digital banking akan sangat pesat. Ini bukan menjadi opsi lagi, tapi menjadi keharusan, sudah mandatory bagi bank untuk masuk ke ranah digital,” kata Leander terkait perkembangan digital banking di Indonesia. Apalagi dengan kondisi ekonomi makri. dimana seluruh kegiatan industri bisnis sedang mengalami penurunan, turut memberikan dampak juga pada industri perbankan. Dengan demikian, menurut Leander, digital menjadi salah satu solusi agar perusahaan dapat lebih menekan cost. “Salah satu cara bagaimana supaya tetap dapat profit adalah dengan menekan cost yang bisa diminamilisir. Sekarang transaksi di bank terutama di kantor cabang dapat dibuat formless dan itu bisa menjadi salah satu smart spending,” ungkap Leander.

Seiring dengan bertransformasinya area digital, mau tidak mau bank juga harus berkompetisi dengan fintech yang kini semakin banyak bermunculan. “Kita juga harus berkompetisi dengan fintech, either menggandeng mereka atau membuat sendiri karena ada kebutuhan cost yang harus ditekan dan itu dapat dijawab melalui digital,”kata Leander. Walaupun investasi yang harus dikeluarkan besar di awal untuk go digital, namun ke depannya penggunaan digital ini optimis dapat menekan biaya secara perlahan.

Di lain sisi, konsumen di Indonesia masih dianggap belum siap sepenuhnya dengan perkembangan digital yang pesat saat ini. “Yang sudah siap lebih ke anak mudah sebenarnya,” ungkap Leander. Oleh karena itu, diperlukan juga sosialisasi dan proses pembelajaran kepada konsumen agar dapat menyamakan persepsi dengan nasabah. “Dulu Go-Mobile CIMB Niaga juga effort banget pertamanya untuk mengajarkan penggunanya. Walaupun sudah diajarkan, namun keluhan tetap tidak dapat dihindari,” cerita Leander. Namun demikian, beberapa penghargaan telah diraih oleh CIMB Niaga dalam melakukan aktivitas digital banking, salah satunya adalah Best Digital Banking Initiative dari The Asian Banker Excellence in Retail Financial Services Awards 2015.