Di tengah ketatnya kompetisi membangun karier pada area profesional, Aditiyo Indrasanto, MM (Alumni MMR 29) justru mampu menangkap sebuah peluang dari persoalan sumber daya manusia di Indonesia. Melalui Career Guide Indonesia, sebuah career consultant, Aditiyo tidak hanya memiliki visi untuk membantu sumber daya manusia lokal dalam membangun karier profesionalnya, namun juga mewujudkan passion-nya dalam bidang sumber daya manusia. Mengawali karier sebagai seorang profesional handal di dunia sales, menjadi bekal bagi Aditiyo saat ini sebagai full timer pada area career consultant. “Saya selalu mencari what is my passion, apa yang benar-benar ingin dituntaskan dalam hidup ini dan saya menemukannya di Career Guide Indonesia”, ungkap Aditiyo.

Awal Perjalanan Karier Profesional

Setelah berhasil memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada bidang Akuntansi di salah satu universitas negeri terbaik di Jakarta, Aditiyo langsung memulai kariernya dengan bergabung di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang kontraktor minyak dan gas sebagai tax accounting.Cycle yang paling disukai ketika bekerja di sana adalah ketika bisa keluar mengantarkan laporan pajak, saya jadi dapat melihat matahari, sisanya pekerjaan di belakang meja”, cerita Aditiyo. Sebelas bulan kemudian, Aditiyo memutuskan untuk tidak melanjutkan kariernya di bidang akutansi, namun mengambil Program Magister Manajemen di Universitas Prasetiya Mulya untuk mendalami area marketing yang dianggap lebih sesuai dengan kepribadiannya.

Lulus dari Universitas Prasetiya Mulya, Aditiyo kembali melanjutkan karier profesionalnya dengan menjadi Management Trainee pada divisi marketing di salah satu perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) multinasional untuk beauty product. Setelah delapan tahun meniti karier profesional di beberapa perusahaan FMCG multinasional dan menjabat sebagai Key Account, Aditiyo mulai berpikir mengenai passion dalam hidupnya dan melakukan evaluasi diri. “Saya merasa sudah pernah di puncak karier, dimana anak saya minta sesuatu saya bisa membelikan tanpa masalah. Suatu malam ketika saya pulang ke rumah, saya befikir bahwa saya tidak pernah bertemu dengan anak saya ketika mereka bangun. Selalu pergi pagi dan pulang malam sehingga tidak ada quality time yang baik dengan anak”, cerita Aditiyo.

Secara perlahan, Aditiyo mulai mencari pekerjaan baru yang memiliki flexibility time lebih tinggi dan akhirnya bergabung di salah satu perusahan Irlandia – Amerika Serikat yang menjual produk sport nutritions sebagai Indonesia Business Manager. Sembari menjalani karier profesional, Aditiyopun mulai merintis bisnis impiannya di bidang Career Consultant, yaitu Career Guide Indonesia dan pada tahun 2015, Aditiyo memutuskan untuk mencurahkan perhatian sepenuhnya dalam mengembangkan Career Guide Indonesia. “Saat ini saya punya waktu yang lebih flexible, walaupun bukan waktu yang lebih ringan ya, tetapi sekarang saya menjalani profesi ini enjoy banget, karena saya bisa mengejar mimpi sekaligus tetap dekat dengan anak–anak”, ungkap Aditiyo.

Perjalanan Career Guide Indonesia

Awal berdirinya Career Guide Indonesia tidak terlepas dari kecermatan seorang Aditiyo dalam menangkap peluang dari sebuah problema umum di Indonesia, yaitu mayoritas masyarakat Indonesia tidak dapat ‘menjual diri’ mereka melalui Curriculum Vitae (CV) untuk keperluan melamar pekerjaan. “Banyak sekali yang cuman berisi biodata atau kerja di mana, tapi tidak ada yang berbicara soal tugas, tanggung jawab, dan achievement”, ungkap Aditiyo. Layanan membuat CV pada waktu itu sebenarnya telah banyak ditawarkan oleh jasa penulisan CV yang dibuat oleh orang yang berlatar belakang sebagai sastrawan atau desainer. Namun, berbekal pengalaman karier profesionalnya, Aditiyo yakin bahwa proses penyusunan CV tidak hanya masalah desain atau menulis indah semata, namun mengenai sebuah esensi yang ingin ditawarkan oleh calon talent kepada perusahaan yang dilamar.

Sebuah langkah kecil dilakukan oleh Aditiyo untuk memulai Career Guide Indonesia pada tahun 2009 yaitu mendirikan sebuah blog sederhana yang pada awalnya bernama CV Guide dan hanya memberikan layanan penyusunan CV saja. “Saya cuman nge-blog dan saya cuman pernah belajar jurnalistik satu kali”, cerita Aditiyo. Pada langkah awal tersebut, Aditiyo juga mulai banyak menulis dengan gaya penulisan ‘jalanan’ seputar karier. “Dari blog, orang mulai melihat dan mulai dipanggil sebagai pembicara di berbagai kampus, dimana media juga meliput.”, lanjut Aditiyo

Bersama seorang partner yang merupakan seorang engineer, Aditiyo menjalankan Career Guide Indonesia dengan target sasaran utama calon talent di Indonesia yang membutuhkan career consultation dan secara aktif memberikan jasa training dalam bentuk seminar, workshop, atau team building. “Saya belum melihat pembicara yang fokus di area karier dan saya melihat potensinya masih besar sekali”, ungkap Aditiyo. Selain itu, Career Guide Indonesia juga membuka layanan untuk konsultasi CV hingga menyediakan tes karier secara gratis. Website merupakan satu–satunya media publikasi yang digunakan oleh Aditiyo dalam menawarkan layanannya dengan memaksimalkan fungsi referral.

Setelah melalui berbagai perjalanan karier profesional, pada akhirnya Aditiyo menyadari bahwa passion terbesarnya ditemukan bersama dengan berdirinya Career Guide Indonesia. “Hidup saya sekarang terasa lebih berbahagia karena apa yang dilakukan lebih bermanfaat serta bisa meningkatkan potensi diri dan orang lain, terutama orang Indonesia yang rata-rata kurang percaya diri, misalnya ketika bertemu dengan ekspatriat mudah gugup, padahal berani dijamin kita tidak kalah dengan mereka”, ungkap Aditiyo. Ke depannya, Aditiyo berencana akan tetap terus mengembangkan Career Guide Indonesia agar dapat meningkatkan potensi diri masyarakat Indonesia yang kurang percaya diri dalam membangun karier profesionalnya. “My ultimate games nih bahwa Career Guide Indonesia ini bisa lebih banyak membahagiakan orang. Ketika ada jalan ya dijalanin aja, let it be saja”, ungkap Aditiyo.

Dampak Prasetiya Mulya

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan yang terjadi pada karier Aditiyo merupakan dampak dari pendidikan yang pernah diperolehnya selama dua tahun pada program Magister Manajemen di Universitas Prasetiya Mulya. Banyaknya presentasi termasuk studi kasus dan simulasi membantu Aditiyo lebih percaya diri serta lebih bisa bergabung dengan teman–teman yang datang dari berbagai latar belakang. “Lebih penting juga saya diajari untuk lebih tactical, helicopter view, bagaimana keadaan real-nya, gak buku banget lha.”, ungkap Aditiyo.

Tips Sukses Talent Masa Kini

Sebagai career consultant, Adityo juga memberikan beberapa tip bagi talent masa kini untuk dapat sukses dalam membangun karier secara profesional. Tips yang pertama adalah tidak sombong, tidak terlalu memilih, serta memperbanyak peluang. “Mendapatkan pekerjaan itu layaknya jodoh dan soal peluang, tidak ada yang 100% pasti dapat”, ungkap Aditiyo. Oleh karena itu, peluang penting untuk diperbanyak agar probabilitas mendapatkan pekerjaan semakin tinggi dan walaupun perusahaan yang dilamar bukanlah yang dituju, tetapi jam terbang dalam menghadapi sesi interview bisa lebih banyak.

Tips yang kedua, adalah menyusun CV dengan sebuah esensi yang dapat ditawarkan kepada perusahaan pada saat melamar pekerjaan. “Banyak sekali orang yang tidak dapat menjual dirinya sendiri, CV plain, waktu interview gugup dan grogi”, jelas Aditiyo. Setelah berhasil bergabung di sebuah perusahaan, interpersonal skill juga dianggap penting oleh Aditiyo untuk dimiliki oleh talent saat ini, terutama yang berkaitan dengan menjalin hubungan baik dengan sesama rekan kerja. “Sebenarnya itu cuman masalah cerdas dalam memposisikan diri”, terang Aditya. (*lle)