Mengawali karier di area manajemen bisnis, kini Aloysius Budi Santoso, MM (Alumni MME SM 13) memiliki peran penting untuk memimpin area human resources (HR) di salah satu perusahaan holding terbaik di Indonesia, yaitu PT Astra International Tbk sebagai Chief Corporate Human Capital Development (CCHCD). Selama lebih dari 26 tahun bergabung di Astra, Budi, begitu ia biasa disapa, telah dipercaya menangani beberapa fungsi penting, seperti pada bagian business development, management system, hingga HR seperti saat ini. Walaupun tidak pernah memiliki latar belakang pengalaman terkait HR sebelumnya, Budi berhasil menunjukkan profesionalitasnya dan memberikan kontribusi terbaik dalam membangun konsep HR di Astra agar semakin dekat dan align dengan bisnis yang berjalan.

Perjalanan Karier Profesional

Keinginan membuat sebuah produk yang bermakna bagi banyak orang ketika remaja mendorong Budi untuk mengambil jurusan Teknik Sipil di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Namun, setelah berhasil membawa gelar Sarjana Teknik, Budi justru tertarik dengan dunia penjualan dan memulai kariernya dengan bergabung pada sebuah perusahaan kecil yang menjual booth pameran. “Jadi, walaupun pendidikan sarjana saya sebagai teknik sipil, not a single day saya pernah bekerja di area teknik sipil. Saya justru memulai karier di dunia sales,” kata Budi.

Enam bulan kemudian, Budi memulai perjalanan kariernya di PT Astra International Tbk, tepatnya pada tahun 1991 dengan bergabung di salah satu anak perusahaan, yaitu PT Astra Graphia Information Technology (AGIT) sebagai Sales Executive. Perjalanan karier Budi di Astra terus berlanjut hingga saat ini dengan posisi terakhir sebagai CCHCD PT Astra International Tbk. Selama lebih dari 26 tahun bergabung di Astra, beberapa fungsi penting telah dipimpin oleh Budi, tidak hanya di area sales saja, namun juga management system, business development, customer satisfaction, hingga human resources (HR) seperti saat ini. “Dari pengalaman saya di Astra telah menangani beberapa area penting dari yang sangat kuatitatif seperti sales hingga yang sangat kualitatif seperti HR,” cerita Budi.

Kepindahan Budi ke beberapa bagian memang tidak terlepas dari penugasan perusahaan atas dasar adanya sebuah kebutuhan. Misalnya, pada tahun 2008, Budi diminta untuk bergabung di kantor pusat (PT Astra International Tbk) untuk membantu membangun konsep HR yang lebih dekat dan semakin align dengan konsep bisnis. “Maka kemudian dicarilah orang yang bukan dari latar belakang HR dan bukan dari holding namun dari business unit ke kantor pusat untuk bergabung di HR’” cerita Budi. Posisi terakhirnya pada waktu itu adalah sebagai Chief of Management System & Business Development AGIT. “Saya tetap melaksanakan setiap tugas secara profesional. Saya selalu stretch diri sendiri untuk mencapai target–target yang lebih baik dan challenge baru yang lebih tinggi,” ungkap Budi.

Setelah bergabung dan menangani area HR, Budi dipercaya untuk memimpin pembentukan Astra People Rolemap Blueprint hingga implementasinya yang masih berjalan sampai saat ini. Selain itu, Budi juga banyak melakukan pembaruan pada sistem HR di Astra, seperti rejuvinasi dari Astra Management System, rejuvinasi panduan HR, hingga meluncurkan gerakan inovasi menuju level selanjutnya. “Tentu semua hal tersebut merupakan sebuah rangkaian yang tidak terputus dan kita tata dengan baik satu per satu sejak saya masih menjadi division head di bagian HR Astra,” terang Budi.

Loyalitas Budi dalam meniti kariernya di Astra hingga saat ini tidak terlepas dari perlakuan karyawan yang dirasa sangat baik. “Kenapa saya masih di Astra, secara sederhana kalau orang Jawa bilang ‘diwongke’ atau kita dianggap sebagai orang,” ungkap Budi. Berbagai tawaran pekerjaan dari perusahaan lain yang menggiurkan juga pernah datang, apalagi dengan kapasitas dan pengalaman yang dimiliki Budi, namun dengan berbagai pertimbangan, Budi tetap memutuskan untuk melanjutkan kariernya di Astra. “Semua inspirasi saya dapat ditampung dengan baik di sini. Saya juga dapat berkontribusi dengan baik. Secara teamwork juga baik. Apresiasi juga kita anggap fair (based on performance),” ungkap Budi.

Talent Management PT Astra International, Tbk

Berbicara mengenai pengembangan sumber daya manusia, dapat dikatakan bahwa PT Astra International Tbk kini menjadi salah satu perusahaan yang paling dicari oleh talent saat ini sebagai tempat mengembangkan karier. Menanggapi hal tersebut, menurut Budi konsep talent management yang dijalankan di PT Astra International Tbk merupakan sebuah konsep yang biasa dan tidak jauh berbeda dengan konsep HR pada umumnya. “Tidak ada yang luar biasa, cuman satu hal bahwa kita lakukan dengan komitmen di semua lini dengan kuat, kemudian adanya konsistensi dan persistensi untuk betul–betul menghasilkan hasil–hasil yang diharapkan,” ungkap Budi.

Sama seperti perusahaan lainnya, sistem pengembangan HR di Astra dimulai dari profiling karyawan, human asset value mapping, kemudian tim HR akan mulai mengidentifikasi pengembangan masing–masing karyawan melalui berbagai cara, seperti training, coaching tutoring, hingga assignment rotation. Komitmen dari setiap leader untuk ikut terlibat dalam pengembangan tim juga dibutuhkan dalam rangka memperoleh pengembangan HR yang maksimal. “Hal–hal seperti itulah yang membuat kami lebih unik dibandingkan dengan lainnya yang mungkin kurang concern, yang penting karyawan sudah dibayar atau jika sudah selesai menjalani training sudah dianggap mampu, padahal kalau berbicara pengembangan SDM bukan hanya itu, bukan hanya diberi training lalu sudah dianggap mengerti,” kata Budi.

Dampak Prasetiya Mulya

“Jelas Prasetiya Mulya sangat berguna bagi karier saya,” ungkap Budi. Ketika bergabung di Program Magister Manajemen (MM) Universitas Prasetiya Mulya pada tahun 1998, Budi telah memulai karier profesionalnya selama 8 tahun dan bagi Budi, lebih ideal jika mengambil program MM ketika telah memiliki pengalaman bekerja seperti dirinya. “Kita jadi bisa memperoleh pencerahan, oh ternyata bisa begini karena dari segi teori begini,” cerita Budi. Dengan demikian, Budi dapat semakin menyelaraskan banyak hal yang pernah ditemuinya di lapangan dengan berbagai dasar teori dan framework yang diperoleh selama di Prasetiya Mulya.

Dengan peran stratejik yang dimiliki oleh Budi, konteks pembelajaran di Prasetiya Mulya sangatlah relevan. “As a strategist, apa yang saya pelajari di Prasetiya Mulya sangatlah bermanfaat,” tutur Budi. Namun hasil kerja keras Budi hingga berhasil mencapai posisi saat ini juga memerlukan sebuah dorongan untuk memanfaatkan knowledge yang diperoleh menjadi value added bagi perusahaan, sehingga menghasilkan performance yang progresif.

Tantangan Praktisi HR di Indonesia

Sebagai praktisi HR yang datang dari latar belakang non HR, menurut Budi, beberapa tren global HR masa kini secara umum telah berada pada track yang benar. Misalnya saja fungsi HR yang semakin melekat dengan bisnis dan menjadi bagian dari bisnis itu sendiri. Salah satu tren lainnya adalah setiap orang merupakan HR leader atau people leader. “Tidak bisa kepala pabrik ketika ada masalah lalu bilang ini masalah HR, yang jadi atasan itu siapa,” kata Budi.

Secara regional, Budi memberikan pandangan bahwa salah satu tantangan yang harus dihadapi di Indonesia adalah terkait regulasi ketenagakerjaan yang berlaku. Bagaimana regulasi tersebut dapat lebih fleksibel untuk konteks di Indonesia. “Perlu diketahui bahwa sebenarnya kita aman sekali di Indonesia karena secara regulasi, jumlah uang pesangon di Indonesia mungkin yang paling besar,” kata Budi. Namun di sisi lain, jumlah serapan terhadap karyawan permanen di Indonesia makin lama menjadi semakin sulit dan kini perusahaan lebih banyak mempekerjakan karyawan contract based atau outsourcing akibat regulasi ketenagakerjaan yang menuntut perusahaan harus membayarkan harga yang mahal.

Ke depannya, salah satu hal yang menarik bagi praktisi HR adalah bagaimana mereka dapat beradaptasi dengan bisnis yang semakin uncertain serta tidak menentu. “Bagaimana kemudian orang–orang HR dapat beradaptasi dengan cepat karena saya melihat bahwa orang HR itu punya kecenderungan sebagai penjaga SOP (Standard of Procedure),” ungkap Budi.

Tips Sukses Membangun Karier Profesional

Berbagai kesuksesan dan kegagalan telah dihadapi oleh Budi selama lebih dari 26 tahun meniti karier profesional. Pada kesempatan ini, Budi memberikan beberapa tips sukses bagi talent yang sedang menjalani kariernya. Yang pertama adalah jadilah seorang pembelajar sejati. “Pada saat kita merasa sudah selesai atau sudah puas, maka di titik itulah kita mulai tertinggal, sedangkan lanskap kompetisi tidak pernah statis,” ungkap Budi. Oleh karena itu, agar tidak mudah ditelan oleh jaman dan persaingan yang terus berjalan, maka talent harus tetap terus belajar. “Bahkan sekarangpun saya telah berusia 51 tahun, saya terus berpikir hal baru, mulai dari digitalisasi, revolusi industri 4.0, dan lainnya,” cerita Budi.

Di setiap perjalanan karier, pasti terdapat kegagalan atau tidak semua hal yang dihadapi dapat berjalan dengan sukses. Maka dari itu, hal kedua yang perlu dimiliki oleh talent adalah jangan pernah putus asa atau ketika mengalami kegagalan, berani untuk bangkit yang disertai dengan persistensi dan konsistensi. “Keberanian untuk bangkit lagi dan belajar dari kegagalan adalah penting, bahkan kita dimatangkan oleh kegagalan bukan dari keberhasilan,” tutur Budi.

Satu hal terakhir yang juga dianggap penting adalah kemampuan beradaptasi terutama dengan culture dan value perusahaan. “At the end, ketika kita ingin bergabung dengan sebuah perusahaan, kita harus meyakini dulu apakah kita dapat beradaptasi dengan culture dan value perusahaan itu atau tidak,” terang Budi.

Rencana Jangka Panjang

Empat tahun menuju masa pensiun, Budi berencana akan menuntaskan perjalanan kariernya di PT Astra International Tbk. “Bahwa nantinya saya akan mendapatkan assignment lagi, nanti saja pikirkan lebih lanjut. Saya akan prepare yang terbaik selama empat tahun ke depan dengan menuntaskan perjalanan dari semua fondasi yang telah dibuat, seperti Astra People Rolemap Blueprint, rejuvinasi kultur, dan lainnya,” cerita Budi. Salah satu mimpi terbesar Budi adalah dapat meninggalkan sebuah legacy bagi penerus selanjutnya. “Jadi saya bersama rekan–rekan saat ini ingin meyakinkan bahwa apa yang telah kita buat tetap dapat dilanjutkan. Oleh karena itu mereka harus merasakan manfaatnya,” ungkap Budi.

Untuk rencana jangka panjang, Budi juga memiliki sebuah keinginan untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. “For the long term, saya ingin mengajar di mana saja, berkontribusi through teaching”, kata Budi. Tidak hanya itu saja, Budi juga berencana untuk mendirikan sebuah konsultan di area SDM atau strategic management. (*lle)