Mengawali karier secara profesional di berbagai industri selama 20 tahun, tidak mengentikan langkah Ira Ocativera, MM untuk membangun bisnis sendiri. Pengalamannya di dunia profesional, terutama dalam menjalin network dan membangun nama baik menjadi bekal bagi Ira dalam mendirikan PT. Carona Indonesia, sebuah perusahaan dengan penanam modal asing (PMA) pada bidang manufaktur makanan. “Poinnya adalah dimanapun kita bekerja, kita membangun nama baik dan track record yang bagus serta tentunya hasil kerja yang bagus”, ungkap Ira.

Awal perjalanan karier profesional

Perjalanan karier profesional Ira dimulai dengan berkarya di dunia marketing pada salah satu perusahaan jasa di Jakarta dan setelah enam bulan bekerja, Ira dipercaya untuk dikirim ke cabang perusahaan di Singapura memimpin beberapa orang lokal. Kemampuan analyctical thinking yang diperolehnya pada saat mengemban pendidikan sarjana jurusan teknik sipil menjadi salah satu bekal utama pada awal perjalanan karier profesional, namun di sisi lain Ira memiliki rasa penasaran yang besar pada dunia marketing. Empat tahun kemudian, Ira memutuskan untuk mengambil pendidikan pasca sarjana di Universitas Prasetiya Mulya guna menggali lebih dalam seputar ilmu manajemen dengan bergabung pada program MMR angkatan 11.

Lulus dari Universitas Prasetiya Mulya, Ira kembali berkarier secara profesional di dunia marketing pada industri Fast Moving Consumer Good (FMCG) selama tujuh tahun. Wanita yang menyukai tantangan ini melanjutkan kariernya dengan bergabung sebagai Direktur pada salah satu perusahaan jasa di bidang media yang merupakan family business selama hampir 8 tahun. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran paling lengkap bagi Ira karena dipercaya berada di posisi atas sehingga harus menghadapi lebih banyak hal.

Sebagai Direktur, Ira memiliki sebuah misi besar yaitu melakukan proses change management pada perusahaan family business, dimana sang owner masih memiliki paradigma yang konservatif dan sistem yang masih tradisional. “Ketika kita ingin melakukan sesuatu di family business, kita harus melihat dulu owner-nya seperti apa”, terang Ira. Berbagai perubahan dilakukan oleh Ira dengan tetap menjaga kepercayaan dan memenuhi ekspektasi sang owner, misalnya membuat sistem yang lebih baik dan modern, pengembangan sumber daya manusia, hingga memperbaiki pelayanan kepada klien dengan kelas premium. Jika pada pengalaman bekerja sebelumnya, Ira bekerja di dunia marketing sehingga dapat bertemu dengan banyak orang, tapi ketika mengerjakan proses change management ini, Ira harus melakukan komunikasi secara cross function dan memahami hal yang berkaitan dengan audit, perpajakan, hingga legal.

Carona Indonesia

Membangun bisnis : PT. Carona Indonesia

Ira tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa salah satu rekanan yang pernah berkomunikasi dengannya secara intensif pada saat masih aktif berkarier secara profesional akan menjadi partner-nya untuk mendirikan PT. Carona Indonesia. “Bagi saya mendapatkan kepercayaan ini bagaikan blessing karena partner saya itu orang paling baik satu dari sepuluh juta penduduk Singapura”, cerita Ira. Pada proses negosiasi, beberapa teman Ira sempat memberikan masukan untuk berhati–hati menjalin kerja sama dengan partner asing, namun pengalaman sang partner pada dunia bisnis food and beverages (F&B) lebih dari 30 tahun serta pengalamannya dalam menjalin kerja sama sebelumnya, memantapkan langkah Ira untuk bersama partner mendirikan PT. Carona Indonesia.

Pada tahun 2012, PT. Carona Indonesia resmi berdiri secara legal dan beroperasi secara penuh pada tahun berikutnya. Sebelum menjalankan Carona, Ira merancang terlebih dahulu standar teknologi, operasional, hingga resep yang akan digunakan bersama sang suami. Sejak awal, Ira memposisikan produk Carona pada kelas premium, oleh karena itu teknologi yang digunakan khusus didatangkan dari Jerman dengan konsekuensi harus mengeluarkan investasi modal yang lebih besar. Untuk menghasilkan produk premium dengan kualitas standar eksport, Ira mendatangkan ekspatriat dari negara tirai bambu guna transfer knowledge dan menggunakan bahan baku yang didatangkan dari luar negeri.

Perusahaan yang menargetkan pasar business to business (B2B) ini, memiliki berbagai macam produk yang terbuat dari bahan baku ayam, misalnya chicken sausage, sliced chicken, dan corn dog. “Produk saya hanya menggunakan bahan baku daging ayam karena belum ada yang dapat mengalahkan rasa sosis ayam Carona, apalagi produk beef sudah terlalu banyak, namun bukan berarti kita tidak bisa membuat produk beef”, ungkap Ira. Hotel, restoran, kafe, dan bakery industry menjadi sasaran utama Ira untuk menjual produk Carona dan kini telah menjangkau hingga luar pulau Jawa, seperti Makassar, Balikpapan, Palangkaraya, dan Bali.

Target sasaran B2B sendiri dipilih oleh Ira karena dianggap lebih menjanjikan dengan kuantitas yang jelas dan lebih banyak. Untuk memperoleh network dengan berbagai jaringan hotel dan restoran, Ira tidak ragu menghadiri beberapa acara komunitas seperti hotel gathering atau restaurant gathering guna membangun relationship serta membuka kesempatan bekerja sama. “Balik lagi memang di Indonesia, network is important”, ungkap Ira. Walaupun demikian, kesempatan pasar pada sasaran modern trade yang memiliki potensi besar tetap menjadi secondary target bagi produk Carona melalui nama brand 7bite, namun hanya terbatas bagi modern market yang bersedia memberikan perjanjian kerjasama yang saling menguntungkan.

Tantangan mendirikan bisnis bersama partner asing

Secara industri, manufaktur merupakan dunia baru bagi Ira dan untuk memulai bisnis ini Ira merancang business plan (BP) terlebih dahulu, walaupun dalam proses realisasinya, BP tersebut harus mengalami berbagai penyesuaian. Dengan latar belakang pengalaman di ranah profesional, BP ini memiliki peran penting bagi Ira, terutama dalam memberikan gambaran awal sebelum bisnis dijalankan. “Beberapa enterpreneur mungkin dapat menjalani bisnis secara otodidak, tanpa BP, tapi bagi kita yang punya background seperti saya, mau tidak mau harus membuatnya, walaupun kita revisi setiap tahun, paling tidak kita memiliki gambaran”, terang Ira.

Menurut Ira, baik perusahaan lokal atau penanam modal asing (PMA), memiliki tantangan yang sama di Indonesia. Namun, bagi perusahaan asing yang berencana membuka di Indonesia, Ira menyarankan untuk memiliki partner lokal karena adanya sistem dan prosedur birokrasi yang berbeda dari negara lainnya, misalnya dalam hal perijinan. Kendala infrastruktur di Indonesia yang masih kurang memadai sehingga memberikan dampak pada proses distribusi, terutama dalam menjangkau area Indonesia Timur, menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh industri manufaktur dengan produk makanan frozen. “Jadi kalau ingin menguasai pasar Indonesia atau ketersediaan produk ada di seluruh Indonesia, perlu memiliki infrastruktur yang bagus sehingga dapat menekan distribution cost”, lanjut Ira.

Tantangan selanjutnya datang dari kondisi politik ekonomi Indonesia, dimana pada saat keadaan ekonomi menurun, maka buying power juga akan menurun. Banyaknya ingredients yang didatangkan dari luar negeri juga secara otomatis terpengaruh ketika keadaan ekonomi sedang melemah. “Tapi, bersyukurlah kalo kita sudah mempunyai sistem yang sudah disetup secara benar sejak awal”, lanjut Ira. Implementasi sistem yang baik sejak awal, seperti sistem keuangan atau sistem operasional, menjadi salah satu kunci penting suksesnya suatu bisnis bagi Ira.

Perbedaan karier profesional dan enterpreneur

Salah satu perbedaan yang paling dirasakan oleh Ira setelah menjalankan bisnis sendiri adalah memiliki flexibility time yang tinggi. Salah satu konsekuensi yang harus dihadapinya selama berkarier profesional adalah memiliki quality time bersama keluarga hanya pada akhir pekan. “Pagi saya bangun dan anak–anak sudah berangkat sekolah, malam saya pulang dan anak–anak sudah tidur”, cerita Ira. Ibu dari dua orang anak ini masih terus mendapatkan tawaran pekerjaan di dunia profesional hingga saat ini, namun di lain sisi Ira masih menikmati waktunya bersama keluarga dan berbisnis. “Saat ini masih belum tergoda karena masih menikmati. Pada saat menjalani industri manufaktur ini, pola pikir saya perlahan berubah, dan saya juga menikmati beberapa tahun terakhir dengan menghabiskan waktu bersama anak–anak”, cerita Ira.

Dampak Prasetiya Mulya bagi perjalanan karier

“Satu hal yang saya akui dari Prasetiya Mulya adalah keberagaman mahasiswa di dalam satu kelas yang datang dari berbagai latar belakang dan pendidikan sehingga saya dapat memperoleh perspektif yang berbeda”, cerita Ira. Banyaknya studi kasus dan kerja kelompok selama kuliah di Prasetiya Mulya membantu Ira untuk memperoleh insight baru melalui diskusi kelompok. Konsep manajemen yang terdiri dari beberapa pilar seperti pemasaran, keuangan, operasional, hingga sumber daya manusia pada akhirnya semakin terasah.

Tidak hanya itu saja, Ira juga belajar bagaimana berkompetisi dengan baik selama mengemban pendidikan di Prasetiya Mulya. “Di satu sisi kita membutuhkan teamwork tapi di sisi lain kita harus berkompetisi satu dengan lainnya, nah hal itu sangat bagus menurut saya”, lanjut Ira. Hal tersebut menjadi sebuah pelatihan yang berharga bagi Ira dalam menapaki karier profesional selanjutnya.

Rencana jangka panjang

Industri manufaktur pada produk makanan yang dijalani oleh Ira saat ini dapat memberikan kesempatan yang lebih luas untuk membuka bisnis baru di area F&B. “Saat ini saya sedang setup untuk membuka bisnis F&B di daerah pada tahun ini”, cerita Ira. Pasar di Indonesia yang masih sangat besar dan meningkatnya industri F&B pada dua tahun terakhir menjadi peluang yang telah dibaca oleh Ira. “Pusat perbelanjaan sekarang dinyatakan mulai menurun apalagi dengan makin banyaknya online, tapi tidak dengan restaurannya. Jadi saya tertarik pada area ini.”, lanjut Ira.

Dorongan untuk berbagi ilmu dan pengalaman yang diperoleh dengan menapaki karier profesional selama 20 tahun hingga mendirikan bisnis dengan partner asing juga dimiliki oleh Ira. Pada berbagai kesempatan, Ira terbuka untuk menerima tawaran untuk berbagi pengalamannya, seperti saat ini Ira menjadi salah satu konsultan di Universitas Prasetiya Mulya. “Apa yang bisa saya share, tentunya akan saya bagikan”, terang Ira. (*lle)