Dengan bekal ilmu manajemen yang diperoleh dari Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Irvandi Gustari, MBA (Alumni MBA Modular 1991) memulai perjalanan karier profesionalnya di industri perbankan. Tidak hanya sektor mikro saja yang pernah ditanganinya dengan terjun langsung sebagai bankers, Irvandi juga telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan perbankan Indonesia melalui kontribusinya pada Badan Penyehatan Perbankan Indonesia (BPPN) di masa krisis moneter. Kini, Irvandi dipercaya sebagai Direktur Utama Bank Riau Kepri, salah satu Bank Pengembangan Daerah terbaik di Indonesia, dan di bawah kepemimpinannya, Bank Riau Kepri telah memperoleh berbagai penghargaan, baik pada tingkat regional maupun nasional.

Perjalanan Karier Alumni

Masa muda Irvandi dihabiskan di Pekanbaru, ibu kota dari Provinsi Riau, hingga pada tahun 1984, ia memutuskan hijrah ke kota Bandung untuk mengejar gelar Sarjana Ekonomi di salah satu perguruan tinggi swasta terbaik. Universitas Prasetiya Mulya menjadi pilihan utama Irvandi untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjananya pada tahun 1989 dan bergabung pada program MBA Modular. “Saya bergabung di Prasetiya Mulya masih awal sekali, dimana jaman dahulu mahasiswa S2 harus memiliki pengalaman minimal 5 tahun, sedangkan saya angkatan pertama yang fresh graduate dan berhasil bergabung pada saat itu,” cerita Irvandi sambil mengenang masa mudanya.

Irvandi mengawali kariernya di industri perbankan melalui sebuah program pelatihan Management Trainee di salah satu bank multinasional pada tahun 1991. Setelah 8 tahun berkarier di industri perbankan, pada tahun 1999, Irvandi dipercaya untuk bergabung dengan BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), sebuah lembaga yang dibentuk seiring dengan kondisi krisis moneter yang terjadi pada saat itu. “Dengan bergabung di lembaga ini, saya masuk ke ranah makro dan lebih berkontribusi dalam hal menyusun kebijakan, sedangkan kalau di bank, saya hanya sebagai pelaku. Dengan saya bergabung ke ranah kebijakan berarti saya menjadi bagian dalam sejarah perbankan Indonesia,” kenang Irvandi.

Beberapa kasus telah ditangani oleh Irvandi selama bergabung di BPPN, terutama kasus penggabungan (merger) beberapa bank yang mengalami krisis, sebagai dampak dari krisis moneter tahun 1998. Pada akhirnya, Irvandi turut terlibat dalam proses change management yang harus dilaksanakan selama proses merger beberapa bank. “Pengalaman yang menarik lainnya adalah pada saat kita melakukan proses penyehatan perbankan, waktu itu usia saya masih tergolong muda, namun saya harus memimpin rapat di hadapan direktur berbagai bank,” cerita Irvandi. Pada usia ke–35, Irvandi telah dipercaya menjadi salah satu bagian dalam penyehatan kondisi perbankan di Indonesia dengan posisi akhir sebagai Vice President – Group Head Strategy & Policy.

Pada tahun 2004, karier Irvandi sebagai bankers berlanjut dan berbekal pengalamannya dalam menangani change management, ia sempat bergabung di beberapa bank lokal. “Jadi, saya telah ikut dalam program perubahan di suatu bank beberapa kali, sebelum bergabung dengan Bank Riau Kepri pada tahun 2015,” cerita Irvandi. Sebagai BPD kedua terbesar di Indonesia, Bank Riau Kepri sempat mengalami kekosongan posisi direktur utama selama 4 tahun sebelumnya dan Irvandi merasa terpanggil dengan berbagai tantangan di hadapannya.

Proses change management kembali harus dilakukan oleh Irvandi selama memimpin Bank Riau Kepri, untuk membawa Bank Riau Kepri tidak lagi menjadi bank regional saja, namun menjadi bank nasional. Lokasi Kepulauan Riau yang strategis dan berbatasan langsung dengan beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand menjadi salah satu peluang sekaligus tantangan bagi Irvandi. “Filosofinya adalah bagaimana melakukan perubahan tanpa terasa berubah. Mindset bank daerah itu lebih homogen, daripada lingkungan di Jakarta yang heterogen, dan itu bisa menjadi sesuatu nilai positif, jadi kenapa yang homogen tidak bisa?,” ungkap Irvandi.

Salah satu cara yang digunakan Irvandi dalam melakukan perubahan di Bank Riau Kepri adalah melalui pendekatan budaya. “Saya angkat budaya Melayu dengan mengangkat harga diri mereka. Untuk memiliki kebanggan, maka mereka harus berubah, jadi berubah bukan karena saya paksa, tapi harkat martabat mereka yang saya angkat,” cerita Irvandi. Selama dua tahun kepemimpinan Irvandi, berbagai penghargaan telah diperoleh oleh Bank Riau Kepri dan Irvandi tidak segan untuk membagikannya dengan seluruh manajemen yang terlibat. “Jika yang mendapatkan penghargaan bagian strategic planning, maka semua karyawan di divisi tersebut saya berikan pernghargaan khusus juga. Proses keberhasilan adalah milik semua karyawan, bukan hanya miliki direktur utama atau presiden direktur saja,” cerita Irvandi.

Jerih payah Irvandi bersama Bank Riau Kepri terbayarkan dengan berbagai penghargaan yang diperoleh Bank Riau Kepri, seperti Regional Bank of the Year 2017 Nation Brightest Awards 2017, The 2nd Best BUMD pada IHCA Awards III 2017, hingga Top CSR Improvement 2017 pada TOP Corporate Social Responsibility Awards2017. Berkat kepemimpinannya, Irvandi juga mendapatkan berbagai penghargaan, antara lain CEO of The Year 2017 untuk kategori Banking & Corporate Leader versi National Brightest Awards 2017, Indonesia Top leader of The Year 2016 versi Nirwana Indonesia Foundation, The Best Visionary CEO 2015 versi Perbanas Institute & Business Review, dan beberapa lainnya. “Tadinya Bank Riau Kepri tidak ditoleh oleh orang, sekaranga menjadi selevel dengan bank papan atas. Pada dasarnya kita tidak mengejar awards, namun kinerja yang harus selalu ditingkatkan,” tutur Irvandi.

Dampak Prasetiya Mulya bagi perjalanan karier alumni

“Saya sangat terkesan dan terkenang dengan Prasetiya Mulya,” kata Irvandi. Salah satu bekal utama yang mengantarkan Irvandi hingga meraih kesuksesannya saat ini adalah pola pikir yang semakin terbentuk, terutama dari segi kemampuan decision making dan problem solving. Selama menjalani perkuliahan di Universitas Prasetiya Mulya, Irvandi dan rekan seangkatannya terbiasa belajar dengan banyak study case, sehingga pola pikirnya menjadi terstruktur dan lebih taktis dalam mengambil keputusan. “Setelah lulus dari Prasetiya Mulya saya merasa berubah banget karena visi saya dibentuk. Berlatih berpikir stratejik dan komprehensif selama di Prasetiya Mulya dan hal tersebut saya terapkan hingga saat ini, walaupun sudah puluhan tahun lalu lulus,” tutur Irvandi.

Perkembangan Industri Perbankan di Indonesia

Menurut Irvandi, Indonesia sebagai negara kepulauan sejalan dengan perbankan modern saat ini, dalam artian tidak memungkinkan lagi bagi bank untuk memiliki jaringan kantor yang banyak, tapi sudah harus memasuki area digital atau istilah lainnya, digital banking. “Memang tidak bisa dielakkan bahwa kita harus masuk ke era teknologi keuangan. Bagaimana bank ini meningkatkan pelayanan dan memenuhi kebutuhannya melalui proses digital,” kata Irvandi. Hadirnya teknologi yang semakin maju membuat adanya pergeseran pada industri perbankan dan untuk menuju era teknologi perlu dikemas dengan sistem keamanan yang canggih. “Jadi saya melihatnya tidak ada lagi pilihan dan ke depannya harus menuju ke sana,” lanjut Irvandi.

Selain itu, peran intermediasi perbankan sebagai penghimpun dana dan penyalur kredit akan juga mengalami pergeseran ke depannya. “Karena tugas utama dari bank adalah pelayanan, maka peran utama bank adalah memberikan pelayanan perbankan dengan produk dan jasa perbankan, bukan lagi peran intermediasinya yang menjadi utama,” ungkap Irvandi. Aktivitas bank seperti menjual kredit dan menghimpun dana hanya akan menjadi sebagian saja, namun utamanya adalah bagaimana nasabah dapat melakukan transfer dan lainnya.

Isu lainnya datanga dari banyaknya pemain pada sektor perbankan di Indonesia yang terbagi ke dalam beberapa segmen, misalnya bank konvensional, bank syairah, hingga BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Untuk segmen bank konvensional sendiri, di Indonesia telah memiliki 118 bank umum. “Dalam artian, sekarang ini tidak akan terjadi bank murah jika lebih dari 100 bank bersaing,” ungkap Irvandi. Meski demikian, jasa perbankan di Indonesia saat ini sangat aman dengan modal yang lebih kuat, tidak seperti jaman krisis moneter dahulu, apalagi telah dilengkapi dengan berbagai aturan dari Bank Indonesia, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). “Hal tersebut harus kita beri appreciate, sangat bagus sekali,” kata Irvandi.

Kiat sukses berkarier profesional

“Jadi berkarier itu kata kuncinya adalah komitmen,” ungkap Irvandi. Seiring dengan berjalannya waktu, kompetisi terus bergerak, sehingga penting supaya tidak mudah cepat puas dan jangan berhenti dengan apa yang telah dimiliki. “Apupun gelar kamu, belajar saja terus untuk meningkatkan kompetisi. Nah, dalam proses itu perlu dibungkus dengan komitmen. Dengan komitmen, maka semuanya akan terwujud,” lanjut Irvandi.

Kiat kedua yang tidak kalah penting adalah keinginan untuk terus belajar dan ilmu yang dimiliki perlu diaplikasikan secara profesional. “Semakin banyak ilmu yang kamu galih di sekolah sadarlah bahwa masih banyak hal yang belum diketahui, jadi janganlah sombong,” kata Irvandi. Dengan komitmen, profesional, serta integritas, maka itulah yang akan mengantarkan karier hingga posisi puncak.

Rencana masa depan Alumni

Sebagai Direktur Utama Bank Riau Kepri, Irvandi memiliki visi untuk membawa Bank Riau Kepri setara dengan bank nasional dan setelah dua tahun di bawah kepemimpinannya, kinerja dan prestasinya telah terlihat. Selanjutnya, Irvandi memiliki keinginan di tahun selanjutnya untuk menghadirkan Bank Riau Kepri Syariah. “Jangan sampai kita masuk ke comfort zone dan ingat bahwa berubah itu harus karena kalau tidak berubah kita akan digilas oleh perubahan itu sendiri,” ungkap Irvandi.

Selain sebagai bankers, saat ini Irvandi juga aktif sebagai pengajar di bidang manajemen dan secara rutin membagikan ilmunya dalam bentuk artikel yang diterbitkan di beberapa media lokal. Ke depannya, Irvandi memiliki rencana untuk melengkapi proses pengabdiannya untuk memperoleh gelar profesor. “Itu adalah cita – cita saya bilamana nanti saya telah melalui proses sebagai executive bankers. Saya akan mengabdi kepada dunia pengajaran,” kata Irvandi.