Teknologi dalam industri perbankan

Penguasaan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi terkini menjadi modal bersaing dalam industri perbankan. Secara internal, penguasaan teknologi mendukung kegiatan operasional perusahaan menjadi lebih efektif dan efisien, karena dapat menyederhanakan, mempermudah, dan mengontrol proses dengan sumber daya manusia yang terbatas. Dengan teknologi, sebuah bank mampu mempersingkat proses pengajuan aplikasi kredit, sehingga kredit dan fasilitas yang telah dijanjikan juga segera dapat dinikmati oleh nasabah. Selain itu, kualitas layanan yang diberikan kepada konsumen dapat lebih baik, mulai dari memindahkan data dari formulir aplikasi ke dalam sistem (data entry), analisis data calon nasabah (credit analysis), hingga card delivery. Penurunan biaya operasional dapat tercapai sampai dengan 60% per aplikasi. Teknologi dalam sistem manajemen informasi juga akan mempermudah bank dalam menyimpan, merekam, dan menganalisa data nasabah, sehingga membantu bank dalam menjaga hubungan konsumen, mengatasi keluhan konsumen dengan lebih baik, dan mengembangkan produk/layanan yang lebih sesuai bagi konsumen. Oleh karena itu, saat ini muncul beragam jenis kredit dengan fitur dan fasilitas yang berbeda yang mewakili interest dan gaya hidup dari segmen pasarnya.

Saat ini, teknologi digital menjadi tren dan perhatian dalam industri perbankan dan layanan keuangan. Muncul inovasi teknologi baru berupa platform berbasis Cloud (mobile-based electronic wallet) dan Blockchain (teknologi basis data terdistribusi) yang diadopsi oleh perusahaan dengan lini bisnis teknologi keuangan (fintech) dan perusahaan telekomunikasi dalam rangka memberikan layanan keuangan yang lebih mudah bagi masyarakat. Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh PWC pada tahun 2017 terhadap industri perbankan dan layanan keuangan di 46 negara, mayoritas dari perusahaan tersebut mengakui pentingnya penggunaan teknologi baru ini. Walaupun, perusahaan-perusahaan tersebut masih merasa ragu untuk mengadopsinya, namun seiring dengan berjalannya waktu, teknologi dan konsumen digital mengalami pertumbuhan yang pesat, sehingga mau tidak mau perusahaan perbankan dan layanan keuangan harus melakukan proses penyesuaian agar bisa memberikan layanan yang lebih cepat, murah, jelas, dan transparan kepada konsumen. Hal ini tentu saja memunculkan persaingan baru dalam industri perbankan dan layanan keuangan.

Disruptive Banking atau Banking Reinvented?

Mayoritas (80%) dari perusahaan penyedia layanan keuangan di dunia saat ini berpendapat bahwa keberadaan fintech dengan kecepatan, keberanian, dan kemampuan berinovasi serta mengadopsi teknologi digital merupakan ancaman bagi keberlangsungan bisnis keuangan (disruptive banking). Mckinsey (2016) memprediksi terdapat risiko penurunan profit pada perbankan di tahun 2025 sebesar 60% dari bisnis pembiayaan, 35% pada SME lending dan payment channel, 30% pada wealth management, dan 30% pada mortgage. Penurunan terhadap margin laba perusahaan, target pasar yang semakin kecil, dan persaingan industri yang semakin ketat membuat 45% lembaga keuangan yang sudah ada dalam industri perbankan memilih melakukan kemitraan dengan perusahaan teknologi keuangan. Kemitraan ini merupakan inovasi yang dilakukan baik dalam bentuk penanaman investasi maupun memasukkan fintech dalam proses bisnis, memberikan added value, dan meminimalisasi resiko karena keraguan dan ketidakpastian yang dirasakan. (PWC, 2017).

Pada tahun 2017, sejumlah bank besar di Indonesia yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Central Asia, dan CIMB Niaga diberitakan mengeluarkan anggaran investasi sebesar 1–4 trilyun rupiah pada teknologi digital untuk mengembangkan digital banking (Kontan, 2017). Masyarakat Indonesia sebelumnya telah mengenal digital banking dalam bentuk layanan perbankan elektronik seperti ATM, EDC, internet banking, mobile banking, SMS banking, dan phone banking. Pada tahun 2015 dan 2016, mulai berkembang layanan keuangan berbasis teknologi digital yaitu payment channel, online/digital insurance, Peer-to-Peer (P2P) Lending, dan crowdfunding. Layanan tersebut tidak hanya diperkenalkan dan disediakan oleh bank tetapi juga industri telekomunikasi dan perusahaan startup dalam bentuk teknologi keuangan seperti Telkomsel, Indosat, Modalku, Bareksa, Investree, dan Amartha. Pada tahun 2016, terdapat 140 perusahaan teknologi keuangan (fintech startups) yang terdaftar pada Indonesia’s Fintech Association (IFA) dengan pertumbuhan sebesar 78% (IFA, 2016). Terdapat sebelas fintech startup lokal yang mendapat pendanaan dari para investor pada tahun 2016. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor bahwa bisnis tersebut mempunyai potensi untuk tumbuh pesat di Indonesia (TechinAsia, 2017).

Mike Sigal, seorang startup coach dan pendiri 500 startups menampilkan model Mckinsey (gambar 1) yang menggambarkan prediksi tahapan perubahan suatu industri karena pengaruh teknologi (Sillicon Valley Innovation Center, 2016). Jika melihat fakta pada tahun 2017, dimana sejumlah bank besar di Indonesia memutuskan untuk berinvestasi pada pengembangan sisi digital, maka menurut model tersebut industri perbankan dan layanan keuangan di Indonesia sudah mulai masuk pada tahapan advance incumbents start adapting dan sedang menuju pada tahap mainstream customers shift. Apakah benar demikian?

Image (1)

Gambar 1 Model Mckinsey dalam memprediksi tahapan perubahan suatu industri karena pengaruh teknologi (Sumber : Sillicon Valley Innovation Center, 2016)

Pada tahun 2013, 95.5% transaksi di Indonesia dilakukan secara cash (Bank Indonesia, 2013). Sampai dengan tahun 2014, transaksi secara cash masih mendominasi (KPMG, 2017). Walaupun demikian, sesuai survey mengenai penetrasi dan perilaku pengguna internet di Indonesia yang diadakan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia) pada tahun 2016, terdapat potensi pertumbuhan transaksi digital dari kelompok masyarakat pengguna internet dan telepon selular terutama mahasiswa dan pelajar. Sebanyak 132.7 juta jiwa penduduk Indonesia (atau 51% dari total jumlah penduduk) telah mengakses internet. Sebanyak 71.6% pengguna internet merupakan penduduk berusia produktif atau usia kerja (25–54 tahun). Terkait dengan aktivitas transaksi online, sebanyak 70.4% pengguna internet merasa yakin dan aman untuk melakukan transaksi perbankan secara online dan sebanyak 49% dari pengguna internet sudah melakukan pembayaran dengan memanfaatkan fasilitas digital banking seperti ATM, internet banking, kartu kredit, SMS banking, dan e-money. Sebagian besar pengguna internet mengakses internet melalui telepon seluler dan komputer dengan penetrasi pengguna internet terbesar adalah pada kelompok mahasiswa (89.7%) dan pelajar (69.8%). Kelompok inilah yang diprediksi akan menyumbang pendapatan terbesar bagi industri perbankan dan layanan keuangan 10 tahun mendatang (Mckinsey, 2015). Tren ini menunjukkan adanya peluang pertumbuhan adopsi layanan keuangan digital oleh masyarakat Indonesia terutama melalui telepon seluler, pada kelompok masyarakat dengan usia produktif, mahasiswa, dan pelajar.

Fasilitas digital banking yang saat ini digunakan oleh para pengguna internet diperkirakan masih banyak berasal dari layanan keuangan digital yang disediakan oleh bank. Hal ini terkait dengan peraturan dari Bank Indonesia dalam memberikan izin pada perusahaan fintech untuk beroperasi secara agresif. Walaupun demikian, transaksi keuangan fintech di Indonesia mencapai 188.5 trilyun rupiah pada tahun 2016 dan berpeluang mencapai 250 trilyun rupiah di tahun 2017, terutama pada transaksi pembayaran atau payment channel (Kompas, 2016 & Pikiran Rakyat, 2017). Bank Indonesia semakin baik dalam menjalankan fungsi sebagai katalisator, fasilitator, business intelligence, asesmen, koordinasi, dan komunikasi dengan menyediakan Fintech Office Bank Indonesia. Dukungan tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan kemajuan fintech di Indonesia (Bank Indonesia, 2016).

Walaupun berdasarkan data APJII terindikasi pemanfaatan fasilitas digital banking yang cukup besar, namun berdasarkan data inklusi keuangan yang dikeluarkan oleh Global Findex tahun 2014, penetrasi layanan keuangan oleh perbankan di Indonesia jauh dari maksimal. Hanya sebesar 36% dari penduduk dewasa Indonesia (berusia di atas 15 tahun) yang telah memiliki rekening (account) di bank atau lembaga keuangan formal. Hanya sebesar 27% dari penduduk Indonesia yang melakukan saving dan baru sebanyak 13% dari penduduk dewasa Indonesia yang mendapatkan formal borrowing dari perbankan atau lembaga keuangan formal. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum mendapatkan layanan keuangan dari bank atau lembaga keuangan formal baik secara tradisional maupun digital. Peluang pasar yang masih sangat besar untuk digarap bersama dengan kolaborasi antara lembaga perbankan, fintech, maupun pemain lain. Tentu saja untuk menjadi pemenang dalam industri ini, pelaku harus mampu menurunkan hambatan masyarakat dalam mengakses layanan keuangan secara formal yang selama ini masih sering ditemui karena hal keterjangkauan (affordability) terkait biaya dan lokasi, kelengkapan dokumen, kerumitan proses, dan kepercayaan (trust) (Allen et.al, 2016). Oleh karena itu, istilah banking disrupted akan lebih tepat diganti menjadi banking reinvented, meminjam istilah BTPN dalam laporan keuangannya pada tahun 2016, karena peluang untuk mengembangkan hal baru di industri ini masih sangat besar. Baik, bank incumbent maupun pendatang baru sama-sama mempunyai tugas untuk merevolusi bagaimana produk layanan perbankan diakses dan digunakan oleh konsumen.

Faktor yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan layanan keuangan berbasis teknologi digital

Tidak hanya melihat tren dan peluang, terdapat faktor yang perlu diperhatikan oleh penyedia layanan keuangan, baik bank maupun fintech dalam berinovasi dan menerapkan teknologi sebagai bagian dari penyampaian layanan keuangan yaitu, intention to use. Intention to use ini dibangun oleh performance expectancy, attitude, initial trust dan perceived risk yang dimodelkan pada gambar 2 (Baptista et al 2016). Performance expectancy adalah keyakinan bahwa penggunaan teknologi tertentu akan menguntungkan atau meningkatkan kinerja individu. Attitude adalah sikap mempengaruhi perilaku individu oleh penyaringan informasi dan membentuk persepsi individu. Trust merupakan mekanisme untuk mengurangi persepsi adanya risiko melalui peningkatan harapan akan hasil positif dan kepastian mengenai sesuatu yang diharapkan (Luhmann, 1979Grabner-Kraeuter, 2002Gefen, 2004). Perceived Risk adalah kemungkinan kerugian dan perasaan subyektif dari konsekuensi yang tidak menguntungkan (Mitchell, 1999).

Model ini diformulasikan bagi teknologi mobile banking yang terus dikembangkan termasuk oleh bank-bank besar di Indonesia. Bagi para praktisi dalam industri ini, memahami konstruksi kunci dan hubungan antara variabel sangat penting untuk merancang, menyempurnakan, dan melaksanakan layanan mobile banking agar dapat diterima dengan baik oleh konsumen.

Image (2)

Gambar 2 Model teoritis berdasarkan hasil weight dan meta analysis (Baptista et al 2016)

Tantangan bagi manajemen resiko industri perbankan

Dengan adanya kecepatan pertumbuhan teknologi, Mckinsey (2016) memprediksi tren pada industri perbankan dalam 10 tahun mendatang. Regulasi lokal dan internasional diperkirakan akan semakin ketat dalam mengatur keseluruhan aspek dari industri ini. Selain itu, terjadi pergeseran ekspektasi pelanggan dan teknologi digital diperkirakan akan menyebabkan perubahan besar serta memberikan profil konsumen industri perbankan yang berbeda. Big data, machine learning, dan crowdsourcing harus menjadi kekuatan utama dalam manajemen resiko suatu perusahaan terutama dalam membantu mengidentifikasi dan mengurangi munculnya risiko baru, seperti risiko akibat efek simultan dari pengaruh global dan cycberattack. Selain itu, fungsi manajemen risiko perusahaan akan diperlukan untuk memperbaiki mekanisme perusahaan dalam melakukan keputusan bisnis dalam semua aspek, termasuk mewujudkan target cost saving dalam sistem operasi sebagai kekuatan bersaing.

Oleh karena itu, fungsi manajemen resiko dalam bank tidak hanya dalam mengidentifikasi dan mengurangi risiko, tetapi keputusan yang dihasilkan harus lebih stratejik dan turut berkontribusi dalam mendukung bisnis dan organisasi, serta menjadikan perusahaan lebih siap dan adaptif dalam menghadapi peraturan baik lokal maupun internasional.

Penulis : Dewi Savitri Saraswati, S.T., M.M. (Faculty Member Program S1 Finance & Banking Universitas Prasetiya Mulya / Alumni MME BM 27 Universitas Prasetiya Mulya)