Sukses dalam berkarier secara profesional di lini industri yang berbeda-beda telah dibuktikan oleh Primawan Badri (alumni MME BM 3). Industri yang berbeda justru memberikan kesempatan belajar yang lebih banyak dan pengalaman yang lebih beragam, meski tetap berkecimpung di ranah manajemen. Kini Primawan dipercaya menjadi Commercial Director Dell Indonesia, salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang teknologi informasi (TI).

Perjalanan Karier Alumni

Setelah menyelesaikan pendidikan pasca sarjana dengan bergabung pada Program Magister Manajemen di Universitas Prasetiya Mulya, Primawan memulai perjalanan karier profesionalnya dengan bergabung di salah satu perusahaan manufaktur multinasional di bidang produk elektronik pada tahun 2004. Selama 4 tahun, Primawan mengaplikasikan ilmu pemasaran yang telah diperolehnya, mulai dari pricing, product, dan service, hingga dipercaya memegang jabatan sebagai Product Marketing Manager. “Apa yang saya pelajari di Prasetiya Mulya, terutama berkaitan dengan pola berpikir, bagaimana membuat perencanaan, menstrukturkan, hingga eksekusi ide, banyak sekali yang dapat dimanfaatkan dan itu terbukti dengan memberikan dampak kepada bisnis yang mengalami peningkatan,” ungkap Primawan.

Kesempatan untuk menjelajahi industri baru di area TI datang menghampiri Primawan. “Dari segi taste, karakter bisnis, market, hingga siklus persaingan jauh berbeda dengan industri sebelumnya, namun karena saya senang dengan dunia TI, jadi saya pikir ini akan menjadi pengalaman yang berharga,” cerita Primawan. Selama lebih dari 2 tahun, Primawan membenahi beberapa bagian penting dalam pemasaran, seperti menata ulang pricing, positioning, distribusi, hingga strategi komunikasi, dan berhasil memberikan hasil yang positif berupa peningkatan penjualan hingga 5 kali lipat. “Satu tahun pertama learning curve-nya memang luar biasa dan lagi-lagi pengetahuan dari Prasetiya Mulya sangat berguna untuk menjalankan strategi marketing yang pas,” kata Primawan.

Perjalanan karier Primawan berlanjut kembali dengan mencoba industri baru, yaitu telekomunikasi, dengan bergabung bersama BlackBerry Indonesia sebagai National Distribution Senior Manager. Terbiasa menggarap area pemasaran, pada kesempatan ini, Primawan mendapatkan tantangan baru untuk mengelola distribusi. “Distribusi di sini dalam artian lebih luas, tidak hanya mengerjakan distribusi, tapi di fase awal, kita juga mengerjakan seluruh bisinisnya karena pada waktu itu kita yang menjadi ujung tombaknya,” kata Primawan. Pengalaman selama 2 tahun bersama BlackBerry merupakan pengalaman yang berharga bagi Primawan terutama menambah pengetahuannya secara praktik terkait distribusi dan channel seusungguhnya. Kerja kerasnya pun mendatangkan dampak yang positif bagi perusahaan, “Pada waktu itu BalckBerry hanya dapat ditemukan di Jakarta, hingga suatu hari seorang pelanggan yang merupakan Ibu Rumah Tangga di daerah tertentu bisa juga membeli produk BlackBerry di daerahnya. Kita merasa bangga ternyata distribusi kita berhasil lebih luas lagi dari sebelumnya,” cerita Primawan.

Pada tahun 2013, Primawan memutuskan untuk kembali berkarya di industri TI dan bergabung dengan Dell Indonesia hingga saat ini. “Pada awal bergabung, saya diminta untuk menata ulang proses bisnis di perusahaan dan itu yang membuat saya tertarik karena kesempatan seperti ini langka, seperti dari puing – puing kemudian dibangun lagi menjadi satu,” ungkap Primawan. Pada awalnya, Primawan dipercaya menjabat sebagai Consumer Business Director dengan menangani pemasaran produk retail dan setelah sukses meningkatkan performa consumer sales, Primawan dipercaya untuk menangani commercial sebagai EUC (End User Computing) Commercial Director sejak tahun 2015.

Selama 15 tahun, Primawan menjalani karier secara profesional pada beberapa industri yang berbeda dirasa justru semakin dapat melengkapi portfolio dan memperoleh pengalaman yang lebih beragam. “Dari segi manajemen bisnis, walaupun kita berkarya di industri yang memiliki produk berbeda, namun secara framework atau cara berpikir tidak berubah, jadi secara prinsip sama,” kata Primawan. Selain itu, tekad untuk terus belajar juga perlu dimiliki agar dapat sukses sebagai seorang profesional.

Dampak Pendidikan Prasetiya Mulya Bagi Alumni

“Berkuliah di Prasetiya Mulya merupakan modal penting bagi saya dan apa yang dipelajari dari Prasetiya Mulya sangat relevan dengan apa yang dihadapi dalam dunia pekerjaan yang nyata hingga saat ini,” kata Primawan. Hal tersebut dianggap dapat menjadi modal yang penting untuk menghadapi persaingan yang terjadi dalam membangun karier profesional. Prasetiya Mulya tidak hanya membantu dalam hal konseptual, namun juga mendukung dari segi praktis melalui berbagai study case dan kerja kelompok, sehingga dapat memberikan wawasan yang lebih luas. “Pada akhirnya, kembali lagi yang namanya pengetahuan tetap harus diperbarui. Apa yang saya pelajari di Prasetiya Mulya sekitar 10 tahun lalu, secara detail sudah banyak yang berubah, namun tetap konsep berpikir digunakan terus hingga saat ini,” lanjut Primawan.

Arah Perkembangan Teknologi Informasi

Tren perkembangan TI saat ini, menurut Primawan, stagnan cenderung menurun karena adanya perubahan pada perilaku pengguna teknologi. “Dulu orang mau browsing, harus dari komputer sehingga dulu notebook  laris banget. Sekarang kondisi telah berubah, dari munculnya tablet hingga smartphone sehingga beberapa fungsi telah diakomodasi oleh smartphone,” kata Primawan. Secara teknologi, percepatan yang terjadi luar biasa, sehingga perangkat teknologi yang lama akan menjadi kurang laku jika tidak melakukan transformasi.

Walaupun mengalami penyusutan, menurut Primawan, peluang pasar bagi produk notebook tidak akan mati sepanjang melakukan perubahan sesuai jaman. Selain itu, terdapat beberapa jenis pekerjaan  yang tidak dapat tergantikan fungsinya oleh perangkat lainnya. “Jadi, menurut saya PC (personal computer), tidak akan mati dan akan terus berkembang, meski akan mengalami perubahan,” kata Primawan. Ia memberikan beberapa contoh perubahan pada produk PC yang terjadi saat ini, misalnya untuk mendukung kepraktisan dan mobility yang tinggi dari pengguna PC, berkembanglah notebook dengan model hybrid, yang merupakan inkarnansi versi terbaru dan menggabungkan laptop dan tablet dalam satu mesin sehingga dapat dilipat atau dilepas pada saat penggunaannya.

Perkembangan tren yang terjadi di Indonesia sendiri telah dianggap mengikuti tren terkini karena seiring dengan globalisasi, apa yang terjadi saat ini dalam hitungan real time telah dapat diketahui. “Cuman masalahnya, saat ini Indonesia lebih kea rah menggunakan device-nya, sedangkan untuk membuat, kita belum sampai pada tahap itu. Saya pikir bukannya kita tidak punya potensi, banyak programmer kita yang jago dan digunakan oleh negara lain, tinggal bagaimana cara agar mereka dapat lebih berkembang di sini,” ungkap Primawan.

 Kesempatan untuk berbisnis di area TI di Indonesia ke depannya masih sangat luas sekali, bahkan kini anak muda telah banyak membuat aplikasi yang dipadupadankan dengan solusi hingga menjadi digital startup. ”Meski mulai dengan modal yang tidak seberapa, tapi pada akhirnya mereka dapat mengundang investor dan menjadi semakin besar. Jadi peluang itu banyak sekali dan balik lagi tidak harus dimonopoli dari perusahaan besar saja,” kata Primawan. Apalagi dunia saat ini telah semakin terbuka, seiring majunya teknologi apapun dapat lebih mudah didapatkan dan dipelajari.

Rencana Jangka Panjang Alumni

“Secara karier, saya merasa masih perlu belajar lagi hingga beberapa tahun ke depan dengan area yang lebih luas,” tutur Primawan. Beberapa industri yang dianggap menarik bagi Primawan, antara lain telekomunikasi dan e-commerce. Walaupun telah berpindah karier di beberapa industri, Primawan justru merasa mendapatkan kenikmatan tersendiri karena menjadi sangat menantang dan memperluas wawasan dirinya.

Mengelola sebuah bisnis telah dijalani oleh Primawan beberapa kali dengan bergabung di beberapa perusahaan, sedangkan mengelola sumber daya manusia masih menjadi salah satu tantangan baginya. “Pada akhirnya, semakin tinggi level kita dalam dunia bisnis, kemampuan mengelola orang juga harus lebih tinggi, selain mengelola bisnis tentunya,” ungkap Primawan. Oleh karena itu, kemampuan leadership juga dibutuhkan, misalnya dalam mendelegasikan tugas dan memberdayakan setiap anggota dalam tim.