Ilmu psikologi dan manajemen pemasaran merupakan ilmu yang pada dasarnya berdekatan karena sama–sama memahami tingkah laku manusia. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu alumni Universitas Prasetiya Mulya, Dra. Ratih Ibrahim, MM (MMR 12), “Marketing itu ilmunya sangat dekat dengan psikologi karena kita memasarkan sesuatu ke human dan bagi saya marketing itu ada jiwanya”. Ibu dari dua orang anak ini merupakan seorang psikolog klinis dan mendirikan sebuah bisnis Counceling & Development Center, yaitu Personal Growth. Kelihaiannya dalam menangani kasus psikologis menempatkan dirinya sebagai salah satu psikolog papan atas yang dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Awal karir Ratih dimulai dengan bekerja sebagai counselor pada tahun 1992 di salah satu sekolah menengah atas swasta (SMA) di Jakarta yang merupakan almamaternya dulu. Tiga tahun kemudian, Ratih memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dengan mengambil Magister Manajemen di Universitas Prasetiya Mulya dan memilih konsentrasi Marketing. “Prasetiya Mulya itu menjanjikan entrepreneurship as their strongest value”, kata Ratih. Seiring dengan aktivitas kuliah pasca sarjana, Ratih juga aktif mengisi sebuah program acara on air di ARH Radio yang membahas mengenai dunia psikologi.

Setelah lulus dari Universitas Prasetiya Mulya, Ratih sempat kembali bekerja di almamater SMA nya sebagai councelor kurang lebih selama 1 tahun dan kemudian menjadi full time housewife setelah melahirkan anak pertamanya. Pada tahun 2001, Ratih bersama beberapa partner bisnisnya mendirikan sebuah bisnis kuliner dengan menghadirkan salah satu brand dari negara kanguru, Australia, yaitu Corica Pastries Indonesia. Pada waktu itu, belum banyak kompetitor pada bisnis kuliner terutama pastries. Sebagai brand baru, Ratih dan rekannya menghadirkan Corica Pastries di Indonesia dengan lebih premium dan mulai menciptakan market baru. “The market is not ready, so we have to make the market”, terang Ratih. Selama lima tahun, Ratih bergabung di Corica Pastries Indonesia hingga berhasil dan memiliki beberapa store di Jakarta.

Walaupun telah menjalankan bisnis kuliner tidak membuat langkah Ratih terhenti dalam mengembangkan karir profesionalnya sebagai seorang psikolog. Ia sempat bergabung dengan Lembaga Terapa Psikolog Universiitas Indonesia sebagai Associate. Pada tahun 2002, Pemimpin Redaksi Majalah Cosmopolitan meminta Ratih untuk menulis pada salah satu rubrik, yaitu Cosmo Controversy. Semenjak itu, Ratih mendapatkan banyak tawaran pekerjaan seperti menjadi psikolog di salah satu ajang pencarian bakat pada bidang tarik suara di Indonesia, yaitu Indonesian Idol. Selain itu, Ratih juga sering diundang sebagai pembicara dan narasumber, baik di media massa maupun pada beberapa acara off air. “Bagi banyak orang i was a new face dan juga cara komunikasi saya yang lugas”, jelas Ratih.

Seiring dengan perjalanan karirnya yang semakin berkembang, Ratih memutuskan untuk mendirikan sebuah Counceling dan Development Center bersama timnya pada tahun 2003. “Waktu saya involved team, saya tertantang apakah akan menggunakan nama sendiri atau nama yang berbeda. It’s very easy to use my name seperti Ratih Ibrahim & Partners”, cerita Ratih. Akhirnya Ratih memilih nama brand yang dianggap paling sesuai dengan misi timnya, yaitu Personal Growth.

Dampak Terbesar Universitas Prasetiya Mulya

Setelah lulus dari Universitas Prasteiya Mulya, salah satu dampak terbesar yang paling dirasakan oleh Ratih yang berprofesi sebagai seorang psikologi klinis adalah ia mengetahui bagaimana harus mengembangkan bisnisnya ke depannya. “I know how to sell my self and my product. I know how to develop my empire.”, jelas Ratih. Misalnya saja, pada awal berdirinya Personal Growth, Ratih harus menentukan target sasaran mana yang ingin dicapai agar bisnisnya dapat sustain, hingga akhirnya ia memilih anak – anak dan keluarga sebagai sasaran utama untuk masuk ke area psikologi klinis. Ketika mengembangkan Personal Growth, Ratih juga harus menghadapi sebuah pilihan sulit dalam menentukan pengembangan bisnisnya untuk menjadi besar secara kuantitas dengan memperbanyak cabang melalui sistem franchise atau hanya berkonsetrasi pada kualitas layanan dan produk. “Itu tantangan yang lama saya pikirkan hingga akhirnya saya membuat keputusan bahwa i’m going to make this company great and greater and greater”, terang Ratih.

Tantangan Terberat Seorang Psychologist Enterpreneur

Sebagai seorang psychologist enterpreneur, bagi Ratih tantangan terberat yang dihadapi selalu muncul dari dalam, misalnya masalah seputar romantika kehidupan diri sendiri. “Kita tidak bisa melayani orang kalau kita sendiri sakit dan menyebabkan mood jadi jelek, jadi tidak balance. Sedangkan, kita di sini melayani orang dan orang yang datang adalah orang – orang yang sakit.”, ungkap Ratih. Oleh karena itu, Ratih meyakini bahwa untuk memberikan layanan yang terbaik, ia harus memiliki sebuah tim yang sehat.

Klien yang datang kepada Ratih dan timnya dapat membawa kasus yang beraneka ragam, dari kasus ringan hingga pelik. Menurut Ratih, berhadapan dengan klien dengan kasus seberat apapun merupakan konsekuensi dari profesinya sebagai psikolog. “Mau seberat apapun kasus dari klien adalah konsekuensi profesi jadi kita harus kuat”, jelas Ratih. Oleh karena itu, profesi sebagai psikolog sangat membutuhkan keahlian dan kematangan jam terbang. “Profesi ini juga tidak ada masa pensiunnya, selama masih berfungsi excellent, maka seperti wine akan semakin berharga”, tambah Ratih.

Rencana Jangka Panjang Ratih Ibrahim

Untuk rencana ke depannya, Ratih ingin terus mengembangkan Personal Growth menjadi lebih baik. “I want to improve the service, improve the product, improve the delivery, kita akan improve terus”, terang Ratih. Saat ini, Personal Growth menyediakan layanan psikologi kepada masyarakat dengan spesialisasi Counceling dan Development Center. Untuk Counceling Center, Ratih dan timnya kini sedang mengembangkan sebuah layanan baru yang menyasar korporasi, khususnya senior management level untuk memelihara kesejahteraan psikologis para pengambil keputusan di perusahaan. Sedangkan, untuk layanan Development Center, Ratih tetap akan memasuki level yang sama dengan sebelumnya yaitu menyasar kaum remaja. (*lle)