Soegiandi, M.M. (MME SM 13) merupakan salah satu alumni program Magister Manajemen Universitas Prasetiya Mulya yang sukses membangun karirnya sebagai seorang entrepreneur. Beliau mendirikan bisnis game center pada tahun 2001 dan kini bisnis tersebut berhasil menjadi trendsetter di Indonesia. Berikut kisah inspiratif Soegiandi yang dibagikan kepada tim Alumni Network Prasetiya Mulya

Awal Perjalanan Berkarir Secara Profesional

Soegiandi mengawali karirnya secara profesional dengan bekerja di beberapa perusahaan besar di Indonesia. Lulusan sarjana ekonomi ini telah terjun menangani bisnis game center sejak tahun 1994. “Dulu ketika game center hadir pertama di Indonesia, saya ikut terjun dan terlibat di dalamnya”, kata Soegiandi. Pada awalnya, jenis permainan di Indonesia masih menggunakan joystick dan banyak berlokasi di ruko sehingga memiliki kesan kumuh. Pada akhir tahun 1994, Soegiandi bersama timnya menghadirkan game center yang lebih modern dan berlokasi di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.

Ketika krisis ekonomi terjadi pada tahun 1998, Soegiandi memutuskan melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Prasetiya Mulya dengan mengambil program Manajemen Stratejik. Perubahan pola pikir menjadi salah satu dampak terbesar yang diperolehnya selama berkuliah di Prasetiya Mulya. Beliau merasa dapat menganalisa peta industri dengan sangat jelas dan lebih mudah menentukan strategi mana yang akan digunakan. “Jadi, ketika harus melawan kompetitor yang besar, saya dapat menganalisa kelemahan dan kelebihan mereka di mana, baru kemudian bentuk strategi dan hajar mereka”, ungkap Soegiandi.

Berdirinya Amazone Group

Pengalaman karir profesional Soegiandi membuatnya melihat bahwa terdapat beberapa konsep yang sebenarnya dapat dilakukan pada bisnis game center, namun tidak dapat dilaksanakan karena adanya beberapa keterbatasan. Misalnya saja, beliau ingin membawa konsep one stop entertaiment services yang membutuhkan skala bisnis lebih besar. Akhirnya, pada akhir tahun 2001, Soegiandi memutuskan memulai mendirikan bisnis sendiri, yaitu Amazone Group, dengan berbekal pengalaman profesional sebelumnya dan ilmu manajemen yang diperolehnya dari Prasetiya Mulya.

Outlet pertama Amazone Group dibuka di kota Medan dengan membawa nama brand Amazone dan bekerja sama dengan salah satu perusahaan retailer besar di Indonesia. Melihat bahwa kompetitor besar telah memiliki outlet di beberapa kota besar di Indonesia, maka Soegiandi memilih menggunakan strategi dengan menghadirkan Amazone di beberapa kota kecil terlebih dahulu. Beberapa perusahaan retailer besar di Indonesia yang belum memiliki bisnis game center diajak bekerja sama olehnya sebagai bekal branding dan membangun portfolio. Dua tahun kemudian, Soegiandi menghadirkan konsep tematik yang berbeda – beda pada setiap outlet game center yang dibukanya, hingga mendapatkan penghargaan sebagai Rekor Bisnis Game Center dengan konsep tematik pertama di Indonesia.

Strategi yang dilakukan oleh Soegiandi sebelumnya terbukti sukses membuat brand Amazone menjadi trendsetter pada bisnis game center. “Untuk tren game center terkini, kita yang paling terdepan”, jelas Soegiandi. Seringkali inovasi yang dilakukan oleh Amazone Group segera diikuti oleh kompetitor lain, misalnya kini banyak kompetitor yang kemudian menggunakan konsep tematik pada setiap outlet yang dibuka. Saat ini, Amazone Group telah memiliki hampir 80 one stop entertaiment center di bawah brand Amazone dan Amazing yang tersebar dari kota Banda Aceh hingga Jayapura dan semuanya berlokasi di pusat perbelanjaan.

Tantangan Berbisnis Game Center

Beberapa tantangan harus dihadapi oleh Soegiandi dalam rangka mengembangkan Amazone Group. Persaingan yang ketat pada bisnis game center membuat Seogiandi harus terus berinovasi agar tetap dapat menjadi yang terdepan. Situasi dan kondisi makro Indonesia, yang berpengaruh pada daya beli masyarakat, juga memberikan pengaruh terhadap bisnis game center, yang termasuk pada kebutuhan tertier. “Pemenuhan kebutuhan hiburan dapat terpenuhi, jika kebutuhan pokok : sandang papan pangan dapat terpenuhi”, terang Soegiandi.

Selain itu, perubahan kondisi ekonomi secara internasional, seperti nilai tukar mata uang asing, juga memberikan pengaruh sehingga dapat memberikan resiko tersendiri. “Kita beli mesin game dalam mata uang dolar, tapi kita dapet duitnya dalam bentuk rupiah”, ungkap Soegiandi. Menurut beliau, kondisi bisnis saat ini secara natural mengalami penurunan, sedangkan costing mengalami inflasi (kenaikan) pada setiap tahunnya. Hal tersebut perlu disiasati agar bisnis tetap dapat bertahan.

Perbedaan Karir Profesional & Enterpreneur

Menurut Soegiandi, untuk membangun karir profesional, seseorang dituntut menjadi spesialis di bidangnya, sehingga ia harus mempertajam suatu bidang tertentu dan menjadi yang terbaik pada bidang tersebut. Untuk membangun karir profesional, dibutuhkan pendidikan dan perusahaan yang terbaik agar dapat menunjang karir dengan cepat. Lain halnya bagi seorang entrepreneur, yang dituntut untuk lebih generalis dengan mengerti segala sesuatu secara umum dan tidak perlu hingga detail. “Untuk tipe generalis ini, kita tidak perlu jago di suatu bidang tertentu, yang penting kita mengerti secara keseluruhan”, jelas Soegiandi. Selain itu, menurut beliau, sebuah bisnis tidak boleh dijalankan selayaknya trial and error, namun membutuhkan persiapan dan perhitungan segala sesuatunya dengan baik.

Rencana Masa Depan

Semakin hari persaingan yang terjadi tidak hanya terjadi di dalam industri saja, namun juga dituntut untuk harus berkompetisi dengan industri lainnya. Misalnya saja, seiring dengan perkembangan teknologi, semakin banyak game online yang bermunculan dan dapat diunduh secara gratis. Walaupun demikian, Amazone Group tetap berhasil membawa brand Amazone dan Amazing menjadi yang paling terdepan untuk tren game center. Hal tersebut menuntut Soegiandi untuk terus mencari sesuatu yang baru pada bisnisnya dan berinovasi, sehingga dapat menghadirkan diferensiasi yang berbeda secara berkesinambungan. “Jadi dengan karakter game center yang seperti ini, saya masih harus fokus dan mempersiapkan strategi baru untuk bisnis ini ke depannya.” terang Soegiandi.