tonny c 2Tonny Christianto, alumni MM Universitas Prasetiya Mulya angkatan 21. Beliau berprofesi sebagai seorang dokter spesialis bedah sekaligus sebagai Direktur dari Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi.

Ia sudah berpengalaman memimpin dan meraih kesuksesan dalam hal inovasi untuk menambah unit layanan di 2 (dua) rumah sakit, sejak tahun 2010.

Kiprahnya sebagai seorang dokter dengan pengalaman lebih dari 2 (dua) dekade sudah tidak diragukan lagi. Yuk kita simak opininya tentang dunia kesehatan.

 

 

Dunia kesehatan dan tantangannya di tahun 2018

Kemajuan di bidang teknologi dan digital sekarang ini memang sudah mulai dirasakan masuk di lingkup rumah sakit. Rumah sakit di Indonesia sudah mulai memikirkan tentang electronic medical record, dimana dengan sistem ini, semua data pasien akan terintegrasi menjadi sebuah kesatuan. Dimanapun pasien membutuhkan pelayanan kesehatan, dokter sudah bisa melihat dan mengakses data tersebut dimana saja, dan tidak perlu ada sistem cetak untuk administrasi. Hal ini tentunya akan sangat membantu dalam melakukan analisis kesehatan dan menjadi efisien. Namun tentunya sistem seperti ini juga memiliki keterbatasan, karena pada dasarnya (khususnya di Indonesia) ada kebutuhan pasien untuk bertatap muka dengan dengan dokter. Dan untuk menegakkan sebuah diagnosa, selain data yang diberikan, dokter juga tetap harus melihat kondisi pasiennya. Pada intinya, teknologi dan digital memang membantu, tapi ada fungsi-fungsi tertentu yang tidak bisa digantikan.

Untuk bisa mengembangkan sebuah rumah sakit tentunya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam hal memperoleh dana atau modal baru untuk peningkatan investasi untuk rumah sakit, tidaklah mudah. Pada dasarnya pengembangan butuh investasi, namun pada tingkat-tingkat tertentu ada batasan biaya yang bisa dibayar oleh masyarakat untuk pelayanan rumah sakit.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan pelayanan. Bila ada keluhan dari pasien yang kemudian berkembang menjadi tuntutan kepada dokter & rumah sakit, tentunya hal ini akan memakan waktu dan perhatian yang lebih dalam proses penyelesainnya.

Kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sebenarnya dapat dikatakan No Limitation, tidak ada batasannya selama orang masih hidup. Apalagi dengan adanya Jaminan Kesehatan Nasional yang mengharuskan seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut serta dalam penjaminan ini, tentu akan menambah lagi kebutuhan pelayanan. Karena orang sudah tidak takut lagi untuk berobat, orang tidak lagi banyak berpikir tentang biaya pelayanan kesehatan atau pengobatan, dan itu membuat demand masyarakat jadi jauh lebih besar dibandingkan masa sebelum ada jaminan tersebut. Hal ini menjadi sebuah tantangan lain yang menarik, karena sistem pentarifan yang diterapkan berbeda dengan pentarifan umum di rumah sakit.

Tantangan lainnya bagi seluruh rumah sakit di Indonesia akan timbul jika pemerintah tetap pada perencanaannya yaitu di tahun 2019, semua rumah sakit di Indonesia harus sudah bisa melayani pelayanan BPJS. Pro kontra menyangkut perencanaan ini masih banyak, mulai dari cara pentarifan (yang berbeda jauh antara rumah sakit swasta dan sistem BPJS), ditambah lagi dengan pengelolaan BPJS yang masih perlu ditingkatkan, karena masih sering terjadi keterlambatan dalam pembayaran tagihan dari rumah sakit.

Hal lain adalah mulai masuknya rumah sakit dari luar negeri dalam bentuk corporate tidak hanya di kota-kota besar Indonesia, tapi juga sudah merambah ke daerah, karena banyak kekosongan pelayanan kesehatan disana. Mereka sudah menargetkan tidak tanggung-tanggung, 100 (seratus) rumah sakit yang akan dibangun di Indonesia.

 

Ilmu di Prasetiya Mulya Aplikatif

Di tahun 2001-2002 saya merasa saya harus menambah kemampuan saya dalam hal manajemen rumah sakit dan aspek bisnisnya. Dulu banyak sekali pendidikan S2, bahkan waktu itu sudah mulai ada MM Rumah Sakit dan M.A.R.S. Tapi setelah saya telaah, M.A.R.S itu lebih kepada administrasi rumah sakit, tidak ada aspek bisnis di dalamnya. Kemudian saya coba pelajari MM Rumah Sakit, disitu mulai ada aspek bisnis tapi tidak terlalu tajam. Saya pikir yang saya butuhkan adalah MM Bisnis. Beberapa teman memberikan saya referensi, salah satunya menyebut Prasetiya Mulya. Tapi dia juga mengingatkan kalau masuk ke Prasetiya Mulya itu susah, banyak rekan-rekan yang drop out. Saya malah berpikir sebaliknya, kalau banyak drop out berarti susah, kalau susah berarti bagus. Akhirnya saya putuskan memilih Prasetiya Mulya, dan ternyata saya pun hampir drop out.

Tapi saya benar-benar merasakan betul, selama saya kuliah di MM Stratejik Prasetiya Mulya, saya mendapatkan bekal dan manfaat yang sangat besar dalam mengembangkan sebuah pelayanan rumah sakit. Ilmu yang saya dapatkan benar-benar bisa saya terapkan. Di tahun 2004 saya langsung membuat business plan yang kemudian saya terapkan untuk mengembangkan satu unit rumah sakit (eye centre) yang saya pimpin pada saat itu dan hasilnya pun baik. Sampai sekarangpun dasar-dasar ilmu bisnis masih saya gunakan, tidak hanya untuk mengembangkan rumah sakit, tapi juga membina orang-orang di dalamnya agar mereka juga bisa mengalami peningkatan sesuai dengan visi dan misi dari rumah sakit.

Hal yang paling berkesan bagi saya selama kuliah di Prasetiya Mulya, saat itu saya bekerja sebagai dokter bedah, menjadi direktur dan harus sekolah. Yang paling repot bukan kuliah malamnya ataupun lokasi saya yang bekerja di Karawang karena saya masih bisa mengatur waktu, tapi karena semua tugas-tugasnya dikerjakan dalam kelompok. Nah, ketemu dengan teman-teman sekelompok saya itulah yang susah, karena semua juga orang sibuk. Sehingga akhirnya kami mengatur waktu diskusi saat pulang kuliah. Seringkali kami bicara dan diskusi tentang tugas hingga bisa sampai jam 1 (satu) malam di kampus. Kedekatan yang saya rasakan dengan teman-teman sekelompok dan seangkatan saya sudah seperti saudara, sampai sekarangpun saya masih tetap berkomunikasi dengan mereka via grup whatsapp.